Ini grill spicy chicken teriyaki-nya Chubo-Chubo. Isinya daging ayam fillet bakar, ebi maki, chicken roll, nasi dan salad. Daging ayam fillet bakarnya empuk dan gurih, sausnya juga lumayan enak. Ebi maki dan chicken roll-nya pun empuk. Salad sayur dihidangkan fresh lengkap dengan mayonaise. Cocok untuk makan siang kalau kita lagi jalan-jalan ke mall. Selamat mencoba!:)
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Minggu, 19 Februari 2012
Senin, 08 Agustus 2011
Nostalgia Memasak Daging Bekicot
Mengkonsumsi daging bekicot bukanlah hal baru bagi saya. Bagi sebagian orang, binatang berlendir ini mungkin terkesan menjijikkan. Namun, bagi sebagian orang lagi, termasuk saya, olahan bekicot merupakan kuliner yang layak dikonsumsi. Waktu masih SD saya sering diajak sepupu-sepupu saya berburu bekicot. Saya ingat, dulu paling tidak sebulan sekali kami blusukan ladang orang untuk mencari binatang bercangkang ini. Dari yang saya amati, bekicot-bekicot ini biasanya paling gampang ditemui di sela-sela tanaman pandan.
Proses menjadikan bekicot menjadi sebuah hidangan yang layak dikonsumsi ternyata susah-susah gampang. Perlu beberapa tahap untuk mengolahnya. Pertama, kami rebus dulu si bekicot hidup-hidup beserta cangkangnya. Agak sadis memang. Tujuan dari tahap ini adalah menghilangkan lendirnya dan juga biar gampang memisahkan daging bekicot dengan cangkangnya.
Kata sepupu saya, tidak semua bagian dari bekicot ini bisa diolah. Hanya bagian 'kaki' saja yang biasanya diambil untuk dijadikan hidangan, lainnya dibuang. Proses perebusan tadi ternyata tidak bisa menghilangkan semua lendir yang ada, perlu dilakukan perendaman menggunakan air kapur, kalau dalam bahasa jawa biasa disebut enjet. Tidak ada batasan waktu yang pakem pada tahap ini. Semakin banyak lendir maka waktu perendaman juga semakin lama, tapi jangan terlalu lama. Nah lo, piye kui? Pokoknya jika daging bekicot dirasa sudah lumayan kesat maka proses perendaman bisa dihentikan.
Setelah lendir dihilangkan maka cuci bersih dagingnya. Tahap selanjutnya adalah proses marinasi. Proses ini dilakukan dengan merendam daging bekicot ke dalam cairan berbumbu. Sayangnya saya lupa komposisinya, hehe. Tujuan marinasi ini adalah selain menghilangkan bau anyir daging bekicot, juga biar bumbunya bisa lebih meresap. Maklum saja, bagian 'kaki' bekicot ini memiliki densitas serat yang paling rapat diantara bagian yang lain. Biasanya kami dulu butuh waktu 30 menit untuk melakukan marinasi ini, baru setelah itu tinggal diolah sesuai selera. Bisa ditumis, dicampur santan atau disate. Kalau saya dan sepupu-sepupu saya biasanya suka olahan bekicot yang ditumis dengan rasa yang pedas lalu dimakan dengan nasi putih yang hangat rame-rame. Ah, betapa nikmatnya waktu itu.
Sabtu, 28 Mei 2011
Iga Bakar & Penyet Pandanwangi
Beberapa waktu yang lalu saat saya pulang ke Jember, mbak saya, panggil saja mbak Nenk, mengajak saya untuk mencoba iga bakar. Katanya sih murah dan enak. Hhhmm.. semurah-murahnya iga bakar paling ya di atas 15 ribu rupiah. Wah, kudu siap duwek akeh iki. Sebagai penikmat kuliner nusantara, tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Siang itu matahari sangat terik di atas Jember, dan saya sudah janjian dengan mbak Nenk untuk pergi ke tempat iga bakar. Butuh semangat ekstra untuk kesana karena selain panas yang menyengat, jaraknya dari rumah saya lumayan jauh, sekitar belasan kilometer. Maklum, rumah saya jauh di pinggiran Kota Jember.
Sampai di tempat yang kami tuju, tertera nama “Warung Pandanwangi”. Warung yang mengambil bagian depan rumah pemiliknya ini cukup asri. “Tapi kok sepi ya, opo ga enak?”, gumam saya. Saya dan mbak Nenk pun segera memesan satu porsi iga bakar, satu porsi iga penyet dan dua gelas es jeruk nipis. Sepuluh menit kemudian menu pesanan kami datang. Pada pandangan pertama saya lihat kedua hidangan iga sapi ini cukup lezat . Iga penyet dihidangkan di atas cobek kecil, lengkap dengan sambel di atasnya. Sambelnya juga kelihatannya cukup enak karena ada potongan jeruk sambelnya juga. Beda dengan iga penyet yang dihidangkan diatas cobek, menu iga bakar warung ini kelihatan lebih menggoda. Daging iganya tampak lebih mengkilap, mungkin karena kecap dan bumbu yang ikut dibakar. Oh ya, jika kita memesan kedua menu ini, di dalamnya sudah termasuk nasi putihnya juga.
Awalnya saya makan iga penyet, karena memang itulah menu pilihan saya. Alasannya karena saya ingin membandingkannya dengan iga penyet yang ada di salah satu restoran di kota buaya. Pertama saya icip si sambel, Cesss...!! meskipun kelihatan seperti banyak tomatnya, tapi sambelnya cukup pedas. Rasanya pun semakin dipernikmat oleh irisan jeruk sambel. Kalau iga penyetnya sendiri, taste yang terasa di lidah cukup enak. Iga yang digoreng lalu dipadukan dengan sambel ini memang mantap.
Karena melihat tampilan iga bakar yang dipesan mbak saya cukup menggoda, saya pun minta sepotong iga bakar itu. Clep..!!, satu potong kecil iga bakar masuk ke mulut saya, dan wow, rasanya sangat enak! Kalau menurut Pak Bondan mungkin mak crusstt... Bumbu khasnya yang bercampur dengan kecap itu, menyelimuti iga dengan sempurna, ditambah aroma bakar yang semakin memperkaya rasanya. Iga bakar ini memang sedikit lebih alot daripada yang pernah saya makan sebelumnya. Namun, justru agak alot inilah yang membuat kita akhirnya harus menggigit iga itu. Dengan begitu, rasa iga bakar akan semakin terasa sampai ke akar gigi :p
Menurut saya, ukuran kedua menu iga ini cukup besar, sebesar tiga ruas tulang iga. Jangan lupa minuman jeruk nipis agar lemak-lemak yang tertimbun bisa digelontor oleh minuman ini. Setelah “menghabisi” iga ini dengan sukses, saya langsung berpikir, “Berapa hargane ya? Sepertinya mahal”. Oke, saya pun ke kasir. Mbak Nenk tanya ke pemiliknya, “Iga penyet, iga bakar, es jeruk nipis dua. Berapa?”. Si pemilik warung pun menjawab, “Dua puluh lima ribu rupiah”. Hweee... saya spontan bilang, “Kok murah?”. Dan si ibu dengan senyum nya berujar, “Pengen tak mundakno ta regane?”
Di Warung Pandanwangi ini, ternyata satu porsi iga, baik bakar maupun penyet, dibanderol dengan harga Rp. 10.000,- saja. Dengan harga segitu sudah termasuk nasi putih, sambel dan lalapan. Murah khan? Selain menyediakan menu iga, warung yang terletak di Jl. Hayam Wuruk 172 Jember ini ternyata juga menyediakan menu-menu nikmat lainnya, seperti garangasem, gurame bakar, tahu telur, salad buah, dll. Semua menu ini tentunya ditawarkan dengan harga yang cukup terjangkau. Enjoy!:)
Jumat, 18 Maret 2011
Soto Ceker Pak Gendut
Racikan soto ini memang berbeda, tidak menggunakan suwiran daging ayam ataupun potongan daging seperti pada umumnya, melainkan ceker ayam. "Soto Ceker dan Ranjau Pak Gendut", begitulah si pemilik warung menyebutnya.
Daging cekernya montok dan empuk, disajikan dalam kuah soto yang panas dengan aroma khas bawang putih dan serai. Dilengkapai taburan bawang goreng dan daun bawang serta beberapa tetes air jeruk nipis membuat rasanya jadi semakin mantab. Kalau mau, kita bisa minta 'ranjau' untuk dicampur dengan soto ceker ini. Awalnya saya tidak ngeh dengan istilah 'ranjau' ini, ternyata yang dimaksud adalah potongan tulang dada atau leher ayam. Kalau boleh dijelaskan kenapa memilih kata 'ranjau' mungkin karena dagingnya terselip di sela-sela tulang, seperti ranjau yang terselip di tanah. Hehe, ada-ada saja.
Seporsi soto ceker plus nasi milik pak Gendut ini dibanderol dengan harga 14 ribu rupiah. Kalau lewat daerah Sabang, Jakarta Pusat, jangan lupa mampir untuk mencicipinya. Enjoy!:)
Senin, 11 Oktober 2010
Ceker Ayam Lapindho : So Hot So Spicy
foto & text : Fajar 'Ndud' Dwinugroho
Fajar 'Ndud' Dwinugroho adalah mahasiswa Teknik Lingkungan tingkat akhir. Gemar berolahraga khususnya futsal. Penikmat tembang Jawa ini juga senang berburu makanan enak. Masih menyimpan keinginan besar untuk mencicipi Bebek Songkem khas Sampang suatu hari nanti.
-------------------------------------------------------------------
Bicara mengenai Sidoarjo saat ini, mungkin yang langsung terbersit di pikiran Anda adalah bencana Lumpur Lapindo yang tidak kunjung selesai itu. Namun kali ini hilangkan dulu pikiran mengenai lumpur tadi dan mari baca postingan ini sampai selesai karena saya tidak akan membahas tentang lumpur Lapindo tapi saya akan mereview menu makanan enak di Sidoarjo namanya Ceker Ayam Lapindho.
Awalnya saya tahu Ceker Ayam Lapindho ini dari sebuah surat kabar di Surabaya. Sebagai penggemar masakan ceker ayam, tentu saya sangat "terangsang" dengan adanya menu ceker yang namanya nggak umum ini. Setelah sempat muter-muter sekitar alun-alun Sidoarjo, akhirnya saya menemukan warung milik Mbak Nik ini, tepatnya di sebelah Kantor Bupati Sidoarjo agak ke barat sedikit. Menu yang disediakan warung ini semuanya adalah ceker ayam tapi diolah dalam berbagai rasa.
Tanpa ba-bi-bu lagi saya pun memesan menu andalan warung ini yaitu Ceker Ayam Lapindho, karena memang saya penasaran dengan kata Lapindho ini. Sedangkan teman saya (pemilik blog ini), memesan Ceker Ayam Asam Manis, karena dia nggak doyan masakan pedas.
Tak berapa lama, pesanan kami datang. Dua mangkuk berisi 5 potong ceker ayam plus sepotong kepala ayam per mangkuknya, 3 piring nasi, es teh dan es jeruk tersaji di depan kami. Tanpa "nuwun sewu" lagi saya langsung ngicipi Ceker Ayam Lapindho pesanan saya. Ssslllrruupp.... wow, terasa sedap dan nikmat, itu baru kuahnya. Saya culik satu buah cekernya, langsung saya nikmati sampai sum-sum tulangnya. Kuahnya saya guyurkan di atas nasi yang sangat punel dan lembut itu, uhhh.
Satu, dua, tiga sendokan saya masih lancar jaya menikmati santapan ini. Namun setelah itu barulah terasa kalau makanan ini ternyata menohok, nendang, dan nampol rasa puedesnya. Satu gelas es jeruk tidak mampu menawarkan mulut saya yang terasa panas dan pedas. Keringat bercucuran, air mata tanpa sadar ikut menetes, bahkan ingus pun tanpa komando juga ikut melorot.
Setelah ceker dan kepala ayam habis saya lahap, barulah nampak potongan-potongan cabai yang sebelumnya mengendap di dasar mangkuk. "Oalah, ini to yang mbuat aku bermandikan peluh". Kalau pesanan teman saya -ceker ayam asam manis, juga berkuah, seperti sop (merah), dengan potongan wortel, buncis, dan nanas. Kalau menu yang satu ini tidak pedas sama sekali.
Puas menikmati menu ceker ayam yang pedasnya naudzubillah ini, kami pun pulang ke Surabaya lagi. Namun sebagai penikmat ceker ayam, sebelum pulang tidak lupa sebungkus Pepes Ceker Ayam kami jadikan oleh-oleh untuk dinikmati di rumah kost, hehe. Coba juga menu lain dari warung ceker ayam ini seperti Ceker Ayam Balajo, ceker Ayam Rica-Rica, Ceker Ayam Mentega dan masih banyak lagi yang masing-masing dibanderol dengan harga Rp. 8.000,- saja. Jadi jika Anda termasuk penggemar olahan ceker, dan kebetulan lagi berada di Sidoarjo maka tidak ada salahnya menyempatkan diri untuk mencicipi Ceker Ayam Lapindho ini. Enjoy!:)
Attention!
Ceker ayam ternyata banyak mengandung zat-zat yang baik untuk tubuh kita seperti zat kolagen, zat kapur dan Hydroxyapatite yang dapat membantu memelihara kekuatan tulang dan mencegah osteoporosis serta dapat menjaga elastisitas kulit. Untuk lebih jelasnya, silahkan klik disini atau disini
Jumat, 24 September 2010
Sop Buntut Sederhana
Namanya warung "Sederhana", ada di daerah Krembangan, Perak. Tempatnya sederhana, benar-benar sesederhana namanya. Hanya ada 4 kursi yang disediakan pemilik warung. Menu andalannya adalah sop buntut. Enak, dagingnya besar dan empuk, ditambah topping potongan wortel jadi tambah maknyus, cocok untuk sarapan bareng pasangan, hehe.
Silahkan dicoba. Harganya Rp. 20.000,- untuk paket berdua, sudah termasuk semangkuk besar sop buntut, 2 piring nasi, 2 gelas teh hangat dan senyum manis ibu penjualnya:)
Kamis, 26 Agustus 2010
Ayam Presto Telur Asin Malioboro
Bosan dengan olahan daging ayam yang itu-itu saja? Mungkin menu yang satu ini bisa menjadi alternatif yang patut dicoba, yap! Ayam Presto Telur Asin khas rumah makan Malioboro. Jadi daging ayam ini tidak langsung digoreng atau dibakar, tapi dipresto dulu. Dalam penyajiannya, di atas daging ayam yang sudah dipresto tadi disiram 'kuah' telur asin. Entah bagaimana caranya bisa sampai jadi kuah seperti itu, yang jelas memang disiramkan begitu saja sampai menutup seluruh permukaan daging.
Karena dipresto, daging ayam ini sangat empuk bahkan sampai tulangnya. Terasa makan daging semua pokoknya. Nggak salah si pemilik menyertakan tulisan "Nikmatnya terasa sampai ke tulang sumsum" di halaman depan brosurnya, hehe. Daging ayam yang soft di-mix dengan 'kuah' telur asin yang agak kasar, hmm rasakan sendiri sensasinya:)
Meskipun kali ini saya ditraktir, tapi harga 15 ribu rupiah perpotong atau 60 ribu rupiah per ekor saya rasa pantas untuk membanderol ayam tulang lunak ini. Jadi, bagi Anda yang di Surabaya silahkan datang ke rumah makan Malioboro ini di Jl. Manyar Kertoarjo atau Jl. Kartini. Silahkan juga untuk mencicipi menu lainnya. Enjoy! :)
Kamis, 01 Juli 2010
Bebek Songkem
Kalau lewat daerah Sampang, Madura, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi kuliner Bebek Songkem. Kalau biasanya daging bebek dimasak dengan cara digoreng atau di panggang, lain halnya dengan Bebek Songkem ini. Daging Bebek Songkem dibungkus dengan daun pisang kemudian dikukus bersama bumbu pedas, hmmm sedapnya. Dagingnya benar-benar empuk, hingga saat saya gigit dagingnya begitu mudah lepas dari tulang. Saya berani bertaruh, nenek-nenek pun tidak akan repot menggigit untuk menikmati empuknya daging Bebek Songkem ini,hehehe. Selama saya makan bebek, saya rasa daging Bebek Songkem inilah yang paling empuk.
Kenapa dinamakan Bebek Songkem? Konon, awal mula istilah Bebek Songkem ini muncul karena dahulu masyarakat kota Sampang selalu menjadikan makanan ini sebagai oleh - oleh jika hendak berkunjung ke rumah Kyai. Masyarakat sana sering menyebutnya dengan istilah songkeman, makanya hingga sekarang bebek yang mereka bawa itu disebut Bebek Songkem.
Karena asli masakan Madura, sudah barang tentu ini bebek rasanya pedas asin. Benar-benar menyengat lidah. Disajikan dengan nasi yang masih hangat, lalapan kubis dan mentimun kemudian minumnya es jeruk, siang-siang pula, capcus! Dijamin bikin nagih. Rating 8 dari 10 jempol deh untuk bebek yang capcus ini. :D.
Harga seporsinya saya kurang tahu persis, yang jelas tidak sampai 15 ribu rupiah karena seingat saya, waktu itu Ayos mengeluarkan uang 63 ribu rupiah untuk mentraktir kami 4 porsi bebek, 3 gelas es jeruk, 4 gelas es teh, segelas air putih dan dua plastik kerupuk. Hehehe, terima kasih traktirannya Yos.
Lokasi warung bebek milik Pak Salim ini ada di Jalan Trunojoyo, Sampang kota. Jadi kalau lagi lewat daerah Sampang, tidak ada salahnya mampir untuk mencicipi bebek yang maknyus ini.:)
Selasa, 26 Januari 2010
Burn Outside Sweet Inside
Kontributor
Fajar 'Ndud' Dwinugroho adalah seorang traveler dan hiker.Seorang sportholic khususnya futsal dan badminton. Penyuka tetralogi Laskar Pelangi ini juga merupakan seorang penikmat tembang-tembang Jawa.
----------------------------------------------------------------------------------
Ketika beberapa kali melewati jalan raya Malang-Surabaya, ada hal yang menarik perhatian saya. Di pinggiran jalan ada papan bertuliskan "ubi madu". Ya, ubi madu atau yang biasa dikenal dengan sebutan ubi cilembu ini cukup membuat saya penasaran untuk mencicipinya.
Mungkin bagi warga Sumedang dan sekitarnya, tentu penganan ini tidak akan sukar didapat karena ubi ini merupakan ras lokal kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Sumedang. Namun bagi saya yang asli Jawa Timur, ubi cilembu ini merupakan kuliner baru yang wajib diincip. Hingga pada suatu sore dibawah rintik hujan, saat melintas daerah Singosari, saya mampir di salah satu kios penjual ubi madu tersebut. Selain ingin beli, sebenarnya saya juga ingin tahu banyak tentang ubi cilembu ini. Saat masuk kios, ternyata mas penjualnya yang bisa saya tebak asli Sunda ini (dari logat bicaranya) telah menyediakan ubi yang sudah di bakar, jadi saya tidak butuh waktu lama untuk bisa langsung "ngicipi" ubi yang menurut kebanyakan orang sangat nikmat ini.
Harga untuk ubi yang fresh from the oven dibanderol 15 ribu rupiah per kg nya sedangkan yang masih mentah cukup 10 ribu rupiah saja. Awalnya saya beli setengah kilo saja, mau nyoba dulu gimana rasanya. Saya ambil satu ubi yang agak besar, lalu saya potong separuh. Sesaat setelah saya potong tadi tiba-tiba dari dalam ubi keluar cairan berwarna coklat keemasan agak lengket dan kental, semacam madu. Melihat hal yang eksotis di depan mata tersebut, saya semakin bernafsu dan mulai memasukkan potongan ubi tadi ke dalam mulut. "Cccrroottt..", ketika ubi terlumat di mulut saya, saya merasakan suatu rasa yang hhmmmmmm, enak! Perpaduan rasa ubi yang nikmat ditambah rasa manis yang berasal dari cairan dalam ubi itu membuat satu paduan yang lezat.
Saya terkejut dengan rasa nikmat yang dihadirkan si ubi. Apalagi si ubi hadir dengan balutan manis dari "madu" nya. Ketika tengah asyik menikmati ubi, ada seorang ibu di dalam angkot yang berada di depan kios memandangi saya dengan mimik muka heran. Mungkin dalam pikirannya,"Arek lemu iki mangan opo yo? kok, ketho'e wuenak banget." (anak gendut ini sedang makan apa ya? kok sepertinya enak sekali-red).
Menurut mas yang njual, cairan manis ini bisa keluar dengan optimal jika si ubi di oven atau dibakar. Jika di goreng, cairan 'madu' nya ngga' bakal keluar. Kalo dikukus? "Kalo dikukus mah, madunya ngga' keluar sebanyak kalo di ophen ato di bakar". Setelah melahap habis setengah kilo ubi, ternyata saya masih kurang. Yah mau gimana lagi, terpaksa deh nambah setengah kilo lagi, hehehe.
Hot Sensation From Wedang Cor
Kontributor
Fajar 'Ndud' Dwinugroho adalah seorang traveler dan hiker.Seorang sportholic khususnya futsal dan badminton. Penyuka tetralogi Laskar Pelangi ini juga merupakan seorang penikmat tembang-tembang Jawa.
----------------------------------------------------------------------------------
Jika kamu mendengar kata Jember, mungkin yang terbayang di pikiran kamu adalah JFC (Jember Fashion Carnaval). Yah, saat ini memang JFC membius dunia dengan karnaval pakaian "aneh" nya, tapi yang "aneh" itulah yang justru menjadi daya tarik tersendiri. Dalam hal kuliner, Jember ga bisa lepas dari yang namanya tape. Suwar-suwir, prol tape, brownies tape dan semua jajanan berbahan dasar tape banyak ditemui di pusat oleh-oleh khas Jember tersebut.
Untuk makanan berat, kebanyakan masakan di Jember hampir sama dengan kebanyakan masakanan khas Jawa Timur, tidak ada yang khas asli Jember. Namun,untuk beverage-nya, Jember memiliki satu minuman yang khas, yang belum pernah saya temui di daerah lain. Di Jember pun cuma ada satu tempat yang menjual minuman penghangat badan ini. Bahkan masyarakat Jember sendiri banyak yang belum tahu tentang minuman yang akhirnya di beri nama "WEDANG COR" ini.
Yap, wedang cor. Minuman hangat yang sangat nikmat dinikmati di tengah dinginnya kota Jember diwaktu malam, apalagi setelah diguyur hujan. Para penikmatnya sering menyebut "ngecor", jika hendak melakukan ritual menikmati wedang cor ini. Ngecor, kata yang beberapa waktu lalu sering dikaitkan dengan goyangan maut salah satu penari dangdut. Ngecor-nya penari dangdut dan ngecor-nya penikmat wedang cor memiliki kesamaan, yaitu sama-sama panas. Kalo panasnya penari dangdut, kamu tentu tahu sendiri gimana. Kalau wedang cor begini ceritanya, wedang cor (sesuai namanya) terdiri dari campuran banyak bahan. Yaitu terdiri dari tape ketan item, yang dimixing dengan jahe serta susu berwarna putih, kentel dan manis. Setelah semua bahan tersebut disatukan, kemudian diaduk dengan beberapa rpm, maka terbentuklah minuman yang sangat nikmat dengan sensasi hangat yang mantab.
Panasnya jahe, ditambah dengan hangatnya tape ketan akan sangat memanjakan badan dikala dingin. Menikmati wedang cor paling cocok sambil makan gorengan yang ternayata memang dijual juga di warung "ngecor" ini. Tempe tepung, tahu petis, pisang goreng dan ote-ote (dalam bahasa Jember disebut "hongkong") dijual dalam keadaan fresh from the wajan.
Jika kamu sedang berada di Jember dan ingin ngicipi wedang cor ini, kamu bisa datang langsung ke warung ini yang letaknya berada di gang sebelah Kantor Perhutani Jember (kalau tidak salah jalan Pandjaitan). Dari mulut gang kira-kira 200 meter kita bisa temui warung ini, tepatnya pas di depan perumahan Dinas Pajak Jember. Warung yang biasanya buka malam hari ini kecil memang, tapi di dalam kesederhanaannya itu terdapat minuman yang bisa mengguncang dunia (lebay : MODE ON). Segelas wedang cor dihargai cuma 3000 rupiah saja. Untuk gorengannya juga sangat murah, cocok dengan kantong kaum marginal.
So, kalau kamu lagi ingin menikmati indahnya malam di Jember dan ga punya alergi terhadap tape,jangan ragu-ragu untuk menikmati hangatnya WEDANG COR..!!!
Minggu, 05 Juli 2009
Seafood Warung Bambu
Setelah sekian lama direncanakan, akhirnya baru rabu kemarin saya bisa menginjakkan kaki di tanah Madura tepatnya di Bangkalan. Berangkat dari kos jam 9 pagi bersama 3 orang teman,Setiadi, Fajar dan Angga, kami berempat mengendarai motor menuju rumah mas Ferdy. Kebetulan, mas Ferdy yang notabene adalah sesepuh kos-kosan sacharosa 63 saat ini, tinggal di daerah Bangkalan. Maka dari itu, sesampainya disana kami berempat diajak kuliner untuk mencicipi masakan salah satu warung makan seafood di daerah Martajasah,namanya "Matus". Terdengar asing bagi saya yang baru pertama kali ke Madura.
Karena saat dalam perjalanan perut sudah keroncongan, sesampainya di warung, tanpa basa-basi kamipun memesan satu kepiting asam manis, satu kepiting saus cuka, dua gurami bakar dan satu kakap merah. Oiya, ada salah seorang dari kami yang katanya tidak suka makan seafood dan daging, Angga namanya. Kalau dilihat dari cashing badannya sih mungkin banyak yang tidak percaya kalau dia tidak suka daging soalnya badannya tambun. Alhasil, dia memesan telor dan tempe bakar. What? Telor bakar? Kok barusan denger ya. Hehe.
Untuk minumannya, kami semua sepakat memesan es mega mendung, halah itu lho cola yang di tambahi susu lalu diberi es, mirip soda gembira gitu.***
Pertama kali setelah semua makanan tersaji, mata saya langsung tertuju pada capit kepiting yang disajikan dengan bumbu asam manis. Saya pun berniat untuk mencicipinya dulu sebelum mencicipi makanan yang lain. Arrghh benar-benar membuat kelenjar air liur ini banjir.
Setelah berdo'a, dengan segera saya mulai mempreteli capit kepiting yang menggoda itu. Prakk! suara cangkang kepiting tadi yang pecah setelah saya gigit. Mulai saya buka dalamnya, uuwhh uap panas dari daging yang menyembul tadi langsung keluar, menimbulkan aroma yang sedap khas daging kepiting. Dicampur dengan bumbu buatan chef warung ini, asam, manis, gurih dan juga ada sedikit pedasnya, hmmm. Oiya, jangan lupa dengan sambel pencitnya (pencit : mangga muda,red) yang memiliki sensasi tersendiri bagi para penikmatnya, juga sambel kecapnya yang spicy, urrgh...mantab!
Puas dengan capit kepiting, saya mulai beralih ke daging kakap merah bakar. Kalau dari segi penyajian secara keseluruhan, saya rasa tidak ada yang special karena hanya disajikan dengan garnis irisan mentimun, tomat dan daun kemangi. Hanya saja, jika melihat dagingnya, arrgh...lihat saja, warnanya yang coklat kemerahan dengan permukaan yang gosong membuat jari ini ingin segera mencuil kemudian menikmatinya.
Ternyata tidak hanya sampai disini saja kuliner kami karena tidak beberapa lama setelah sampai di rumah mas Ferdy, mbak Etik yang hingga saat ini menjadi soulmatenya mas Ferdy, datang membawa semangkuk besar es kelapa muda,waaahh mantab! Secara hari masih siang dan entah kenapa saya merasa suasana di Madura saat itu lebih kering dari Surabaya jadi segelas es kelapa muda cukup bisa mennyegarkan tenggorokan.nb : terima kasih buat mas Ferdy dan keluarga :)
Jumat, 29 Mei 2009
Kakap Bakar CJDW

Akhir minggu kemarin aku dan temanku Fajar jalan-jalan ke Malang. Sebenarnya sih tujuan utama bukan jalan-jalan, tapi karena aku sudah janji dengan adikku untuk mengembalikan laptopnya minggu ini jadi ya mau tidak mau aku harus ke Malang. Yah tidak apa-apalah sekalian refreshing, soalnya aku jarang keluar kota naik motor.
Berangkat dari kos pukul 6 pagi, kamipun meluncur ke Malang dengan menunggang motornya Fajar. Dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam kamipun sampai di Malang pukul 8.30, masih terlalu pagi, karena janjian dengan adikku pukul 11 siang. Karena masih lama, kamipun memutuskan untuk naik ke daerah Batu, tempat yang kami tuju adalah BNS (Batu Night Spectacular), maklum aku belum pernah sekalipun kesana jadi rasa penasaran membuatku sedikit memaksa Fajar untuk menunjukkan lokasinya, yah meskipun sepi karena bukanya kan malam, namanya saja Batu Night Spectacular, hehehe maaf ya Jar:)
Setalah cukup puas melihat lokasinya kamipun menuju daerah sumbersari tempat kos adikku, karena jam masih menunjukkan pukul 10 pagi, kamipun mencari sarapan dulu. Semangkuk mie instan ditambah es jeruk sudah cukup mengganjal perutku. Setelah itu kami menuju jalan Ijen tempat acara Malang Tempo Doeloe akan digelar, tapi karena acaranya masih 4 hari lagi jadi kami hanya menemui beberapa orang yang mulai mendirikan stand.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, kamipun menuju kos adikku, setelah mengembalikan laptop dan istirahat sebentar kami memutuskan langsung kembali ke Surabaya dan mampir di ikan bakar CJDW di daerah Sidoarjo tepatnya di jln. Embong Malang (deket stopan lalu lintas ) GOR Sidoarjo arah barat ( ke Krian ) Sekitar 2 KM, sebelah kiri jalan. Tempatnya sederhana, tidak menunjukkan tempat makan kelas atas baik dari segi harga maupun cita rasa. Namun jangan salah, setelah duduk dan mencoba cuilan pertama dari daging ikan bakarnya,behhh..!!!!maknyoz!!
Bumbunya yang sedap dan gurih, menarik siapa saja yang lewat untuk mampir. Bumbunya khas dan meresap merata ke ikannya, gurih dan lembut. Dan yang bikin menarik lagi satu ikan Kakap medium + 3 piring nasi + 2 es jeruk dihargai hanya Rp. 25.000. Wah ya ini yang namanya uenak tapi murah, kalau kata iklan di TV sih selera bos harga anak kos, sip dah. Pokoknya kalian harus mencobanya soalnya rasanya membuat lidah kangen ingin kesana lagi, uuuuwwhhh..mantab jaya!
Jam bukanya mulai pukul 9-10 pagi sampai malam. Oiya kalau kesana jangan heran ya, soalnya yang antri banyak, mobil dan motor berderet-deret, jadi harus sedikit sabar kalau ingin mencicipi ikan bakar yang maknyoz ini. Tapi hasilnya memuaskan kok.
Setelah makan kami langsung menuju Surabaya, dibawah guyuran hujan yang lebat sekali kamipun tetap melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai juga di kos, Alhamdulillah.
nb : Terima kasih untuk Fajar 'ndoed' dan motornya:). Maaf fotonya tidak bagus, jepretan dari kamera HP soalnya.
Berangkat dari kos pukul 6 pagi, kamipun meluncur ke Malang dengan menunggang motornya Fajar. Dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam kamipun sampai di Malang pukul 8.30, masih terlalu pagi, karena janjian dengan adikku pukul 11 siang. Karena masih lama, kamipun memutuskan untuk naik ke daerah Batu, tempat yang kami tuju adalah BNS (Batu Night Spectacular), maklum aku belum pernah sekalipun kesana jadi rasa penasaran membuatku sedikit memaksa Fajar untuk menunjukkan lokasinya, yah meskipun sepi karena bukanya kan malam, namanya saja Batu Night Spectacular, hehehe maaf ya Jar:)
Setalah cukup puas melihat lokasinya kamipun menuju daerah sumbersari tempat kos adikku, karena jam masih menunjukkan pukul 10 pagi, kamipun mencari sarapan dulu. Semangkuk mie instan ditambah es jeruk sudah cukup mengganjal perutku. Setelah itu kami menuju jalan Ijen tempat acara Malang Tempo Doeloe akan digelar, tapi karena acaranya masih 4 hari lagi jadi kami hanya menemui beberapa orang yang mulai mendirikan stand.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, kamipun menuju kos adikku, setelah mengembalikan laptop dan istirahat sebentar kami memutuskan langsung kembali ke Surabaya dan mampir di ikan bakar CJDW di daerah Sidoarjo tepatnya di jln. Embong Malang (deket stopan lalu lintas ) GOR Sidoarjo arah barat ( ke Krian ) Sekitar 2 KM, sebelah kiri jalan. Tempatnya sederhana, tidak menunjukkan tempat makan kelas atas baik dari segi harga maupun cita rasa. Namun jangan salah, setelah duduk dan mencoba cuilan pertama dari daging ikan bakarnya,behhh..!!!!maknyoz!!
Bumbunya yang sedap dan gurih, menarik siapa saja yang lewat untuk mampir. Bumbunya khas dan meresap merata ke ikannya, gurih dan lembut. Dan yang bikin menarik lagi satu ikan Kakap medium + 3 piring nasi + 2 es jeruk dihargai hanya Rp. 25.000. Wah ya ini yang namanya uenak tapi murah, kalau kata iklan di TV sih selera bos harga anak kos, sip dah. Pokoknya kalian harus mencobanya soalnya rasanya membuat lidah kangen ingin kesana lagi, uuuuwwhhh..mantab jaya!
Jam bukanya mulai pukul 9-10 pagi sampai malam. Oiya kalau kesana jangan heran ya, soalnya yang antri banyak, mobil dan motor berderet-deret, jadi harus sedikit sabar kalau ingin mencicipi ikan bakar yang maknyoz ini. Tapi hasilnya memuaskan kok.Setelah makan kami langsung menuju Surabaya, dibawah guyuran hujan yang lebat sekali kamipun tetap melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai juga di kos, Alhamdulillah.
nb : Terima kasih untuk Fajar 'ndoed' dan motornya:). Maaf fotonya tidak bagus, jepretan dari kamera HP soalnya.
Sabtu, 21 Maret 2009
Kuliner On The Weekend
Weekend telah tiba, saatnya jalan-jalan, hehe. Dari awal minggu memang planning minggu ini acara jalan-jalannya adalah kuliner. Tentu saja sama si Prili, belahan hati (ohok..ohok..hehehe piss nduk) merangkap guideku selama hampir 3 tahun ini di Surabaya. Dari semalam kita bela-belain surfing internet untuk mencari kuliner Surabaya yang akan kita coba. Akhirnya Prili kasih ide untuk mencoba nasi bebek depan tugu Pahlawan, katanya sih enak tapi bukanya agak sorean. Sambil menunggu buka kita main-main dulu ke House of Sampoerna (HoS), soalnya walaupun si Prili rumahnya dekat situ tapi ternyata dia belum pernah kesana,hahaha (piss lagi nduk:)) Niatnya mau foto-foto, ternyata rame akhirnya ya tidak jadi. Puas lihat-lihat di Hos kita langsung meluncur ke Taman Bungkul, niatnya mau mencari view yang bagus sambil ngobrol, tapi karena sudah sore kita memutuskan langsung menuju tujuan utama kita, warung nasi bebek depan tugu Pahlawan yang katanya top markotop itu. Sampai disana ternyata penjualnya masih prepare-prepare mau buka warungnya,walah. Karena sudah sore dan perut tidak bisa diajak kompromi maka kita putuskan menuju warung bebek cak Yudi yang terkenal karena sambel 'pencitnya',waaah sudah tidak tahan nih,hehe.
Kata orang-orang yang sudah pernah kesana, kalau ingin kebagian kita disarankan kesana agak sorean soalnya kalau agak malam sering tidak kebagian. Wah jadi takut nih soalnya sudah jam 5, tapi ternyata sampai sana bebeknya masih ada,untung saja. Sampai disana sama penjualnya ditawari jeroan tapi karena lagi tidak pengen makan jeroan jadi kita hanya memesan 2 porsi bebek plus 2 gelas es teh,hmmm...maknyos!!ni aku kasih gambarnya!
Porsi nasinya menurutku lumayan, bebeknya juga lumayan besar. Kalau rasa dagingnya, enak dan empuk.Syiip dah! Tapi yang paling penting adalah sambel 'pencit'nya... cabe yang pedes dicampur mangga muda yang asem, ssshhhhh...aaahhh...sensasinya di lidah mmmmpphhhh...maknyoz!! Tapi awas yang perutnya tidak biasa makan pedes campur asem, jangan banyak-banyak makan sambelnya ya,hehe. Penutupnya adalah always es teh manis, selain seger juga bisa sedikit mengurangi sensasi sambel 'pencit'nya di lidah, segeerrr..!!Pentol Bakar Es Teh Manis
Berawal dari kunjungan adikku ke Surabaya, mau tidak mau aku harus jadi guidenya, padahal siang itu aku masih menghadiri acara wisuda teman, tapi tidak apa-apalah, jarang-jarang adikku ke Surabaya:). Dari acara wisuda teman aku dan Prili langsung ke gubeng jemput adikku, karena sudah masuk jam makan siang, perut sudah mulai keroncongan. Awalnya aku pengen ajak makan didaerah SMA komplek, maklum udah lama tidak makan mie 'petek' depan SMA komplek atau kalau tidak ada ya sotonya cak To yang maknyuz, tapi aku lupa kalau hari itu hari minggu jadi hasrat makan mie 'petek' harus ditahan. Sedih. Akhirnya si Prili kasih ide makan didaerah kampus B, didepannya tepatnya, katanya sih harganya lumayan murah. Ya sudah akhirnya kita bertiga langsung menuju kesana. Kesan pertama liat warungnya sih lumayan bersih, sedia masakan chinese gitu, koloke, fu yung hai dan kawan-kawan. Namanya kalau tidak salah warung 'Airlangga', pinggirnya cafe Piza. Dari menu yang ditawarkan, aku tertarik dengan satu menu yang 'nyeleneh' dari teman-temannya dalam daftar menu, nasi bakso bakar. Akhirnya aku putuskan memilih menu itu plus es teh manis karena udara siang itu panas banget jadi hasrat minum yang dingin-ding semakin menggebu. Kira-kira 15 menit menunggu, akhirnya pesananku datang. Setelah melihat pesananku, menurutku salah kalau namanya nasi bakso bakar karena tidak ada setetespun kuah yang dihidangkan, lebih tepat kalau diberi nama nasi pentol bakar.
Seperti yang ada di foto, cuma ada nasi, pentol dan sambal kecap. Kalau boleh aku komentar, menurutku pentolnya enak, bumbunya terasa soalnya pentolnya dipotong seperti tukang buah motong kedondong jadi bagian dalamnya juga ikut terkena bumbu. Rasa khas daging yang dibakar juga tidak ketinggalan. Nasinya lumayan banyak, ada taburan bawang gorengnya, jadi semakin terasa gurih. Sambel kecapnya juga lumayan, ada irisan cabenya jadi kalau pas cabenya ikut termakan ya, maknyoz, hahaha. Apalagi waktu itu udara panas sekali wah bisa dibayangkan panas-panas makan cabe, dijamin keringat meleleh, hehehe. Untung aja ada es teh jumbo, jadi bisa langsung teguk, uuaah...segar! Masalah harga lumayanlah, 6000 perak kalau tidak salah. Kalau tertarik, coba ya?!:)Salam hijau.
Langganan:
Postingan (Atom)























