Tampilkan postingan dengan label pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pantai. Tampilkan semua postingan
Jumat, 20 Januari 2012
Menikmati Pagi Di Pantai Klayar
Pacitan memang terkenal dengan sebutan Kota 1001 Gua, namun keindahan pantainya juga tidak kalah mempesona. Salah satu pantai yang paling sering menjadi tujuan wisata di Pacitan adalah Pantai Klayar. Meskipun belum sepopuler pantai-pantai di selatan Pulau Jawa seperti Parangtritis dan Plengkung, tapi Pantai Klayar akan memberikan kesan tersendiri bagi pengunjungnya. Pantai Klayar terletak sekitar 45 km sebelah barat Pacitan. Pantai ini dapat dicapai dengan sepeda motor ataupun mobil.
Akses jalan yang sempit, beberapa tanjakan dan turunan yang curam serta jaraknya yang jauh dari kota merupakan tantangan tersendiri bagi pengunjungnya, khususnya bagi para driver. Namun jangan kuatir, sepanjang perjalanan kita akan selalu dimanjakan dengan pemandangan bukit hijau yang menyejukkan mata. Udara perbukitan yang masih segar saat pagi hari semakin membuat saya menikmati perjalanan ini. Kadang kita juga akan menjumpai beberapa orang penduduk yang kebetulan berpapasan dengan kita. Dengan senyum yang ramah, mereka tanpa segan akan menyapa kita.
Jika datang kesini lebih pagi, kita akan bisa menikmati sunrise-nya yang muncul dari balik bukit. Sunrise di pantai ini terlihat cantik, ditambah lagi arak-arakan awan yang masih menutupi sebagian langit Pacitan, membuat pemandangan ini semakin menarik. Untuk melihat Pantai Klayar secara utuh, kita bisa naik ke bukit karang yang ada di sebelah kanan pantai ini. Pihak pengelola pantai sudah menyediakan jalan setapak untuk memudahkan pengunjung menuju bukit karang ini. Dari atas bukit ini, lagi-lagi saya dibuat takjub dengan hamparan Samudra Hindia yang terpampang di depan saya. Sungguh perpaduan yang apik antara kemegahan dan keindahan. Berjalan menyusuri pantai menuju ke timur, kita akan menjumpai muara sungai yang airnya jernih dan tenang. Dipinggirnya berjajar pohon-pohon kelapa yang merupakan vegetasi pantai yang menjadi kebanggaan warga Pacitan ini. Sungguh pemandangan pagi yang menyejukkan hati.
Sebenarnya ada satu lagi yang menjadi obyek andalan di Pantai Klayar yaitu seruling laut yang berasal dari sebuah celah di batu karang ini. Ketika ombak besar datang, sebagian airnya akan masuk melalui celah tersebut dan menyembur ke atas menciptakan sebuah air mancur raksasa yang luar biasa. Air mancur ini juga disertai dengan suara mirip siulan oleh karena itu air mancur ini disebut seruling laut. Untuk menikmati fenomena alam ini dari dekat tergantung keberuntungan, kalau ombak lagi tinggi, penjaga pantai tidak akan mengijinkan kita untuk mendekatinya, seperti saat saya kesana beberapa waktu lalu. Terlepas dari itu semua, Pantai Klayar memang patut menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Jawa Timur karena menyuguhkan pemandangan alam yang luar biasa.
Senin, 08 Agustus 2011
Morning Grey
Selasa, 31 Mei 2011
Light From The East
Mau dimanapun menikmatinya, yang namanya sunrise selalu dapat memanjakan mata saya. Dinikmati dari puncak gunung, dari atas bukit, pesisir pantai ataupun hanya dari balkon kos-kosan, semuanya sama, selalu dapat membuat saya bersyukur bisa hidup di negeri ini. I love Indonesia!
******
Beberapa waktu yang lalu, akhirnya saya bisa menikmati sunrise di kawah Gunung Bromo. Waktu itu, sebelum mencapai kawah, saya bersama empat orang saudara saya masih harus berhadapan langsung dengan tebalnya kabut lautan pasir Bromo yang dingin. Belum lagi debu dari lalu lalang hardtop yang melintas lautan pasir ini, cukup mengganggu pernafasan bagi pejalan kaki seperti kami. Namun "perjuangan" itu tidak sia-sia, karena sesampainya di puncak, kami masih sempat melihat keindahan sunrise-nya.
******
Menikmati sunrise dari atas bukit pernah saya lakukan di Bukit Penanjakan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Bukit Sikunir di Dataran Tinggi Dieng. Keindahan sunrise di Bukit Penanjakan memang selalu menjadi daya tarik bagi pelancong domestik maupun mancanegara. Memang, saat Bromo meletus beberapa waktu lalu, kawasan ini sempat ditutup karena terkena hujan abu vulkanik. Namun hal itu tidak menyurutkan niat saya bersama beberapa teman untuk pergi kesana. Sayangnya saat itu cuaca sedikit mendung.
Untuk melihat sunrise di Bukit Sikunir nampaknya tidak semudah di Bukit Penanjakan. Kalau di Penanjakan kita bisa dengan mudah menyewa jasa hardtop untuk sampai lokasi, di Sikunir untuk dapat menikmati sunrise kita masih harus sedikit hiking untuk sampai ke view point. Namun tak apalah toh sampai di view point semua akan terbayar dengan keindahan sunrise-nya. Nampak di kejauhan dari Bukit Sikunir ini kita bisa melihat siluet gunung Sindoro - Sumbing, Merbabu dan Merapi.
photo by Dwi Putri
******
Dari dulu saya ingin sekali melihat sunrise di pantai. Namun baru kesampaian saat saya mengunjungi Pantai Bama yang berada di dalam komplek Taman Nasional Baluran - Situbondo. Lingkungan sekitar pantai yang sepi, segarnya udara pagi, ditemani suara ombak-ombak kecil, menjadikan pantai ini sebagai tempat ideal untuk menikmati sunrise.
Berbeda dengan sunrise di Pantai Bama, sunrise di Pantai Klayar - Pacitan "lebih lambat" datangnya. Topografi pantai selatan yang berupa pegunungan membuat sinar matahari jadi terhalang sehingga sunrise disini terkesan agak siang datangnya. Foto ini saya ambil sekitar pukul 6 pagi.
Untuk menikmati sunrise, yang wajib dilakukan memang harus bangun pagi, tapi ternyata bangun pagi saja belumlah cukup, cuaca juga sangat berpengaruh. Pernah saya 3 kali berburu sunrise di Pantai Ria Kenjeran tapi 3 kali itu pula cuaca mendung. Namun terkadang tanpa diburu pun, rol sunrise seperti ini malah tiba-tiba muncul. Lucky me:)
******
Senin, 11 April 2011
Enjoy My Journey
Text : Prila Nusanti | Photo : Irfan Syafur
Hari itu tanggal 21 Desember, saya lagi jenuh sekali dengan kerjaan yang hanya itu-itu saja, nggak ngerti apa yang mau dikerjain. Akhirnya saya email-email-an dengan seorang kawan lama, namanya Anggun, cerita nggak jelas ngalor-ngidul sampai akhirnya dia punya ide ngajak traveling ke Kepulauan Seribu tapi dengan budget minimal. Wew, boleh juga tuh! Hehe. Biar perjalanan ini tambah rame, sayapun menghubungi mas Irfan untuk gabung, dan alhamdulillah dia mengiyakan ajakan saya. Oke, anggota jadi bertambah satu. Sebenarnya saat itu saya masih dalam masa transisi dari tempat kerja saya yang lama ke yang baru, jadi jujur saja saya belum ada pemasukan dan mengandalkan sisa uang saya di tabungan yang tinggal beberapa ribu saja. Tidak ada pilihan lain lagi selain ngutang dulu, dari pada tidak jadi berangkat. Dan ternyata mas Teguh-lah orang baik itu, yang rela meminjami saya ongkos selama traveling ini,dan juga akhirnya memutuskan untuk ikut, thanks ya pak:). Diluar dugaan ternyata mas Irfan mengajak tiga orang temannya lagi, mas Amri, mas Khulafa dan mas Hamtaro, wohoo jadi tambah rame, asyikk!:D
Setelah diskusi akhirnya kami putuskan tanggal 25 Desember untuk berangkat ke Kepulauan Seribu selama dua hari, dengan hanya bermodal tangan hampa, senyum ramah dan belas kasih tentunya. Dengan waktu yang hanya dua hari, tidak mungkin bagi kami untuk menjelajah banyak pulau jadi kami tetapkan tujuan kami di Kepulauan Seribu hanya Pulau Pramuka dan Semak Daun saja.
Setelah diskusi akhirnya kami putuskan tanggal 25 Desember untuk berangkat ke Kepulauan Seribu selama dua hari, dengan hanya bermodal tangan hampa, senyum ramah dan belas kasih tentunya. Dengan waktu yang hanya dua hari, tidak mungkin bagi kami untuk menjelajah banyak pulau jadi kami tetapkan tujuan kami di Kepulauan Seribu hanya Pulau Pramuka dan Semak Daun saja.
Pagi itu kami berangkat jam 5 dari kos karena kapal yang akan kami tumpangi dijadwalkan berangkat jam 7 dari Muara Angke. Namun pada kenyataannya, meskipun belum waktunya berangkat tapi kalau muatan kapal sudah penuh kadang bisa langsung berangkat. Kami beruntung karena kapal yang akan kami tumpangi saat itu masih belum begitu penuh sehingga kami bisa mencari posisi tempat duduk yang lumayan pas untuk mencari spot foto yang bagus, hehe.
Sampai di Pulau Pramuka sekitar jam 10.30 wib, dan saya sudah lapar sekali. Planning awal saya saat sampai di pulau ini adalah mencicipi kuliner lokalnya yaitu Sate Gepuk. Bahan dasar utama sate ini bukan dari dari daging ayam atau kambing tapi dari daging ikan. Hampir sama seperti otak-otak ikan sih tapi yang ini dibakar bukan digoreng. Saya berkeliling pulau untuk mencari kuliner yang katanya maknyus ini tapi nihil. Saat saya tanyakan kepada penduduk setempat, eh lhakok malah ditawarin nasi padang. Walaaah, masak jauh-jauh ke sini makannya nasi padang. Kalau nasi padang sih nggak usah jauh-jauh ke Pulau Pramuka, disekitar kos saya juga ada, heu. Setelah muter-muter lagi cari tempat makan akhirnya kami menemukan warung yang menyediakan menu sop dan nasi goreng. Ah tak apalah seadanya saja, daripada perut ini makin menyiksa. Sayapun tergiur untuk mencoba nasi goreng rasa ikan asin, rasanya lumayan enak tapi lumayan juga sih harganya:)
Setelah perut terisi lalu kami mencari persewaan kapal yang akan mengantar kami ke tujuan selanjutnya yaitu Pulau Semak Daun. Biaya sewa kapal 300 ribu. Biaya ini juga sudah termasuk biaya untuk mengantarkan kami ke spot snorkeling di sekitar Pulau Semak daun. Untuk alat snorkeling-nya sendiri kami harus merogoh kocek lagi sebesar 35 ribu rupiah untuk membayar sewanya. Umumnya, bagi yang baru pertama kali snorkeling seperti kami, terlebih dahulu akan dilatih bagaimana mengatur pernafasan di dalam air. Latihan ini penting dilakukan apalagi bagi yang belum bisa berenang seperti saya ini.
Kira-kira sudah hampir satu jam lebih kami latihan. Setelah dirasa cukup bisa oleh instruktur kami akhirnya tibalah saatnya kami bersnorkling beneran. Kami diajak ke spot-spot snorkeling yang ternyata memang bagus banget. Terumbu karang yang merupakan habitat para ikan masih bagus sehingga tak heran jika masih banyak ikan-ikan berlalu lalang didepan mata saya. Puas bersnorkling ria, selanjutnya kami mencari spot yang aman untuk mendirikan tenda karena kami berniat bermalam di pulau ini.
Nggak afdol rasanya kalau kita berada di suatu pulau kecil yang sepi tanpa menikmati sunset-nya. Setelah tenda rampung didirikan, kamipun berburu sunset di ujung pulau. Astaga, bagus banget! Malamnya kami ada planning untuk membuat api unggun namun sayangnya karena lagi musim hujan alhasil kayu yang ada semuanya basah. Akhirnya kami hanya bisa ngumpul di sekitar lampu ublik sambil cerita ngalor-ngidul ditemani nasi mie instant yang notabene lebih berasa air laut daripada bumbunya, sigh. Mie inilah yang sukses membuat saya diare semalaman. Sejak kejadian yang menyiksa ini, waktu itu saya berjanji nggak akan makan mie instant selama sebulan kedepan, huhu padahal saya suka makan mie.
Diluar dugaan, tengah malam hujan deres disertai angin yang lumayan kencang dan sempat membuat tenda kami goyah, syukurlah cuma sebentar jadi kami bisa melanjutkan mimpi kembali. Keesokan paginya saya bergegas bangun untuk mengejar matahari, hehe lebay, maksud saya sunrise. Sayangnya karena cuaca mendung, indahnya matahari terbit yang saya mimpikan semalem tetap menjadi mimpi, poor me. It’s okay, memang kondisi alam susah ditebak apalagi musim penghujan seperti ini.
Akhirnya, sekitar jam 8 pagi kami dijemput kapal yang kami sewa, yaahh acara senang-senangnya akan segera usai. Tuhan memang sayang kepada hambanya yang sabar, sesampainya di Pulau Pramuka saya akhirnya mendapatkan kuliner yang saya pengen, yap! Sate Gepuk! Hurrayyy..!! This is the most important thing that you must try at this place:). Puas melahap Sate Gepuk kamipun melanjutkan perjalanan menuju Jakarta, membawa banyak cerita pengalaman seru selama traveling ini.
Rabu, 04 November 2009
Memorable Sempu
Alhamdulillah, akhirnya tercapai juga mimpi saya untuk menjelajah pulau Sempu bersama teman-teman kuliah saya. Awalnya saat H-2 saya sempat ragu untuk ikut karena kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan, badan meriang, batuk ditambah lagi teman saya bilang ini adalah gejala demam berdarah. What?! DB?! Seketika itu juga bayangan indahnya pulau Sempu tiba-tiba berubah menjadi salah satu kamar inap di RS Haji. Astagfirullah, cepat-cepat saya hilangkan pikiran itu. Sampai akhirnya, dengan berbekal do'a dan mimpi ingin melihat indahnya Sempu, saat hari H saya ikut juga.Berangkat dari Surabaya sekitar jam dua belas malam menggunakan tiga buah mobil, kami ber dua puluh dua orang meluncur menuju arah Malang. Perjalanan pada malam hari jelas lebih menghemat waktu karena jalanan yang masih sepi. Setelah beberapa saat istirahat di POM bensin daerah Turen, kami lanjutkan perjalanan melewati jalan pegunungan yang tidak terlalu lebar dan yang pasti berkelok-kelok menuju selatan Malang.
Sekitar jam setengah tujuh pagi, sampai juga kami di pantai Sendang Biru. Harus saya akui, baru pertama kali ini saya pergi ke pantai pagi-pagi. Tenang dan menyejukkan. Sendang Biru cukup bersih, yah paling tidak saya tidak menjumpai benda bulat lonjong berwarna 'kuning keemasan' yang berseliweran. Mobil kami titipkan di halaman salah seorang warga Sendang Biru, pak Kardi namanya.
Jangan harap ada kapal sejenis Titanic dengan segala kemewahannya disini karena perjalanan dari Sendang Biru ke Sempu hanya butuh waktu sekitar 10 menit, jadi perahu motor sederhana saja rasanya sudah cukup, hehe. Sistem sewa perahu disini adalah antar jemput, jadi kita harus janjian dulu ingin dijemput jam berapa dari Sempu karena sinyal seluler di Sempu kurang bagus.
Seperti kebanyakan daerah konservasi pantai lainnya, tepian pulau Sempu juga ditumbuhi bakau yang lumayan besar. Saat itu air masih pasang sehingga perahu bisa mengantar kami sampai bibir pulau. Tujuan utama menjelajah Sempu adalah melihat Segara Anakan. Sebuah cekungan besar berisi air laut yang dikelilingi batu karang, sehingga terlindung dari ganasnya ombak Samudera Hindia.Track yang harus dilalui untuk sampai ke Segara Anakan adalah jalan setapak yang medannya berupa tanjakan dan turunan, sulur dan akar pohon yang besar-besar tidak pernah hilang dari pandangan. Terkadang kita juga harus melompati pohon besar yang tumbang, melewati jembatan kecil dan juga bebatuan. Suara kicauan burung dan bau khas hutan di pagi hari sungguh membuat saya lupa kalau sebenarnya kami semua belum sarapan. Krukk. Krukk. Hahaha whatever, saat itu yang ada di pikiran saya adalah sesegera mungkin melihat Segara Anakan yang eksotis itu.
Setelah kira-kira 45 menit berjalan, suara gemuruh ombak mulai terdengar. Rasa ingin tahu saya semakin membuncah saat mulai terlihat bakau yang menandakan bahwa pantai sudah dekat. Dan tak lama kemudian pemandangan Segara Anakan sudah tersaji di depan mata. Subhanallah, airnya jernih, tenang, pasirnya putih dan dikelilingi karang yang ditumbuhi pepohonan hijau. Namun sayang pemandangan yang apik itu jadi ada nilai minusnya akibat sampah pengunjung yang berceceran.
Selain dari tepian, keindahan Segara Anakan juga bisa dinikmati dari atas tebing karang. Lebih bagus malah. Jadi jika kita melihat dari atas tebing, di sisi utara kita bisa melihat Segara Anakan yang warna airnya terlihat hijau dan di sisi selatan adalah birunya Samudera Hindia yang luas dengan barisan karang-karangnya yang besar. Sungguh perpaduan yang apik antara keindahan dan kemegahan.
Sebenarnya sih sudah ada papan larangan untuk tidak memanjat tebing karang ini tapi dasar manusia, semakin dilarang, rasa penasaran akan semakin menjadi-jadi. Akhirnya saya, Hudan, Faridz, Ita, Nimas dan Kak Ayu nyerah dengan rasa penasaran kami, nekat bergelantungan manjat tebing karang, kapan lagi nyobain rockclimbing seperti ini, kalau di kota mah yang ada hanya panjat pinang itu saja setahun sekali waktu Agustusan.
Sempat terjadi perdebatan apakah dari Segara Anakan mau langsung pulang atau tracking lagi ke pantai Pasir Panjang. Setelah berembuk akhirnya dicapai kesepakatan untuk tracking lagi ke Pasir Panjang. Untuk menuju pantai ini harus melewati 3 pantai lagi dari Segara Anakan yang artinya kami harus naik turun bukit sebanyak empat kali lagi. Wew! Jadi inget soundtrack ninja Hattori yang versi Indonesia. Ternyata setelah pantai kedua, beberapa orang teman sudah nyerah untuk melanjutkan ke Pasir Panjang. Akhirnya kami putuskan untuk kembali menuju tempat jemputan perahu.
Saya tidak tahu nama pantai kedua ini, yang jelas pantai ini tidak kalah bagus dengan Segara Anakan. Bedanya, kalau di Segara Anakan airnya cukup tenang sedangkan di pantai ini karena langsung berhadapan dengan Samudera Hindia jadi ombaknya cukup besar.Sangar!Pantai Selatan memang memiliki daya magis yang luar biasa. Membuat kebanyakan orang yang melihat akan senantiasa tertarik untuk mendekat meskipun ombak pantai selatan seperti itu, paling tidak salah seorang teman saya telah membuktikannya. Begitu excited-nya dia hingga peringatan dari kami sempat dia abaikan. Tak berapa lama kemudian datanglah ombak menerjang tubuhnya. Untungnya saat itu dia berpegang erat pada karang di depannya sehingga bisa dia jadikan tumpuan. Beberapa dari kami yang dari tadi terus mengawasi secara spontan berlarian menjemputnya, ternyata kakinya kram makanya dia tidak segera menghindar tadi. Alhamdulillah, tidak jadi masuk berita surat kabar lokal.
Perjalanan pulang menuju tempat jemputan perahu membutuhkan waktu lebih lama jika dibandingkan saat berangkat karena selain stamina yang sudah terkuras, ada salah seorang teman yang kakinya kram sehigga perlu istirahat agak lama. Untuk tips, sebaiknya jangan menggunakan sandal jepit saat tracking ke Sempu, terlebih lagi sandal klompen, karena medan yang naik turun dan agak licin sangat beresiko membuat kita terpeleset dan kram. Gunakan sandal gunung atau sepatu yang grid bagian bawahnya cukup kasar.Kami tiba di bibir pulau sekitar jam 1 siang dan tarraaaa..!!! Air sudah sudah surut dan perahu berada agak jauh ke tengah teluk sodara-sodara! Mari lanjutkan perjuangan menuju perahu melewati karang-karang kecil yang lumayan tajam. Sebenarnya sih bukan masalah bagi saya tapi karena kaki saya saat itu sudah lecet, jadi saat terkena air laut bisa tahu sendiri perihnya gimana. Aihh! Salah satu lirik lagu Anggur Merah milik almarhum bang Meggy ternyata bener.
Fasilitas di Sendang Biru cukup lengkap, mulai dari penginapan, mushola, tempat parkir hingga toko kelontong. Oiya yang paling penting adalah toilet umum karena setelah tracking di Sempu, badan yang kotor dan cuaca pantai yang cukup panas akan membuat kita ingin segera mandi. Terdapat enam toilet umum di Sendang Biru yang tentunya kita harus bayar, waktu itu saya dapat toilet yang atapnya terbuka, jadi jika melihat ke atas yang terlihat ya langit dan pepohonan, tidak jarang juga burung-burung berseliweran di atas saya. Untung tidak ada yang pengen, liat temannya mandi. Haha.
Satu hal yang paling saya syukuri selain kami semua selamat sampai rumah atau kos masing-masing adalah cuaca saat di Sempu cukup cerah dan hanya sedikit mendung, tidak sampai hujan. Sungguh pengalaman yang memorable.
Special thanks to:
Hudan, Faridz, dan Wakhid, para driver tangguh yang nyetir mobil kami pulang pergi Sendang Biru - Surabaya. Setiadi untuk kamera w-150 nya, kameramu memang keren Setz, teman-temanku mengakuinya, haha. Hanif untuk tripodnya, berkat tripodmu kami bisa foto full team dan salah satu hasil fotonya dinobatkan sebagai foto terbaik, versi kami tentunya, hehe. Teman-temanku semua, dua puluh dua orang yang goxkil abis, persiapkan travelling selanjutnya.
Kamis, 23 Juli 2009
Camplong beach
Dalam perjalanan setelah melewati jembatan Suramadu hingga perbatasan Sampang - Pamekasan, hanya rasa bosan yang ada dipikiran saya karena di kanan kiri hanya terlihat rumah penduduk dan juga persawahan. Namun setelah memasuki daerah Pamekasan, wow pemandangan laut selatan pulau Madura tersaji di samping kami. Inilah pantai Camplong.
Jarak antara bibir pantai dan badan jalan hanya beberapa jengkal saja. Jadi sangat jelas bisa kami lihat indahnya pantai ini. Birunya langit yang nyaris tanpa awan memantul di permukaan air laut berpadu dengan coral dan pasir menimbulkan gradasi warna yang apik. Kapal layar nelayan yang hilir mudik menambah indahnya komposisi pemandangan ini.
Saat akan memasuki daerah Sumenep, saya melihat terdapat banyak kolam berukuran cukup luas berisi air di kanan-kiri jalan. Awalnya saya mengira itu adalah areal persawahan yang akan ditanami padi, ternyata itu adalah tambak garam.Karena ini bukan pure acara travelling maka kami tidak bisa leluasa menikmati pemandangan pantai yang eksotis ini sebab tujuan utamanya adalah ke acara nikahan teman. Foto-foto pun juga seadanya, tapi semoga lain waktu entah kapan bisa kesini lagi dengan tujuan travelling.
Sabtu, 27 Juni 2009
Wisata Bahari Lamongan
Sebenarnya tidak ada plan khusus untuk liburanku kali ini karena awalnya memang tidak ada pikiran akan ke tempat ini, tapi tidak apa-apalah untuk menambah pengalaman. Awal ceritanya, senin malam aku bertemu Vivin dan Nimas di parkiran kampus, tiba-tiba mereka mengajak jalan-jalan ke WBL (Wisata Bahari Lamongan), karena hari rabu memang tidak ada kegiatan akhirnya aku mengiyakan ajakan mereka.Kira-kira rabu pagi pukul 08.10 kami ber-9, ada Ari, Sukro, Nimas, Shinta, Vivin, Teddy, Laurent, mas Anton dan aku mulai meninggalkan Surabaya naik mobilnya Ari. Jalan Surabaya - WBL bisa dibilang bagus walaupun masih ada jalan yang bergelombang, namun tidak sampai kategori parah. Dalam perjalanan, tepatnya didaerah Gresik, di kanan kiri jalan banyak terdapat tambak, uwh benar-benar pemandangan yang menyejukkan mata. Sampai daerah Lamongan kira-kira pukul 10.00, dan kami langsung disuguhi pemandangan laut utara yang biru hingga ke tepiannya. Pada titik tertentu, jarak antara jalan dan laut sangat dekat jadi semakin membuat kami ingin cepat sampai ke tempat tujuan.
Tak berapa lama kemudian akhirnya sampai juga di WBL, kondisinya saat itu ramai sekali, mungkin waktunya musim liburan jadi banyak yang memanfaatkannya untuk rekreasi, salah satunya di WBL ini. Setelah sarapan nasi bungkus yang sudah kami bawa dari Surabaya tadi, kamipun menuju Goa Maharani yang juga berada disekitar area WBL, hal yang pertama ada dalam pikiranku adalah sebuah pertanyaan "Apakah goa ini asli atau buatan?". Namun setelah masuk ternyata beneran asli euy, stalagtit dan stalagmitnya bagus-bagus bentuknya, mantab. Langsung saja take a pic untuk kenang-kenangan.
Didalam goa cukup panas maka dari itu oleh pengelola diberi beberapa blower supaya agak dingin. Puas melihat-lihat isi goa, kami melanjutkan ke ruang etalase batu-batuan mulia, wiiiihh keren abis, warna warni dan juga bermacam-macam bentuknya. Di dalam area Goa Maharani juga ada diorama hewan-hewan, pusat oleh-oleh dan juga mini kebun binatang. Yang membuatku berkesan adalah saat masuk area sangkar burung, disitu kita akan diberi beberapa biji-bijian kesukaan burung itu dan tidak berapa lama kemudian kita akan diserbu oleh kawanan burung itu. Tanpa takut burung itu akan bertengger di tangan kita sambil memakan biji-bijian yang kita bawa tadi, wih benar-benar pengalaman pertama nih ngasih makan burung sedekat ini.
Setelah sholat dhuhur, kami lanjutkan ke WBL-nya. Kondisi di dalam ramai sekali hingga di tiap-tiap wahana antrian cukup panjang. Karena kami malas mengantri lama-lama, kamipun mencari wahana yang agak sepi. Wahana yang pertama kami coba adalah rumah kucing, kemudian beberapa dari kami mencoba gokart. Setelah itu ada yang mencoba wahana ombak air, lalu taman berburu dan yang memicu adrenalinku, roaler coaster. Mungkin bagi yang pernah naik sudah biasa tapi apakah sudah pernah naik roaler coaster yang berada di dekat tebing? yang jika menghadap ke bawah bisa langsung terlihat laut? Kalau ingin mencoba, datang saja ke WBL ini.
Wahana di WBL ini cukup lengkap, selain yang kami coba di atas juga terdapat rumah sakit hantu, dunia bawah air, rumah kaca, paus dangdut, rumah bajak laut dan masih banyak lagi. Kolam renang, flying fox, banana boat juga ada. Untuk yang ingin mengenal sejarah salah seorang wali di Jawa Timur, disediakan miniatur padepokannya, seperti mushola, gapura, rumah dan miniatur lainnya. Terdapat juga miniatur Texas City dengan icon Koboi dan Indiannya, beberapa dari kami sempat mencoba naik rodeo dan hasilnya kurang memuaskan, hanya beberapa detik saja langsung jatuh.
WBL ini juga memiliki pemandangan laut yang menakjubkan. Lautnya biru hingga ke tepian pantai, ombaknyapun tenang, khas pantai utara pulau Jawa. Begitu indah saat sore hari, jadi tidak aku sia-siakan untuk mengabadikannya.





Puas mencoba beberapa wahana, kamipun pergi mencari mushola setelah itu makan sambil menunggu magrib. Setelah sholat kamipun bergegas pulang karena takut kemalaman. Aku tidak sempat membeli oleh-oleh karena uang yang aku bawa sudah benar-benar habis, padahal di area WBL pusat oleh-oleh cukup lengkap. Mulai dari souvenir hingga kuliner semua ada tapi karena tidak ada uang jadi aku urungkan saja niatku. Semoga lain kali bisa kesana lagi.Amin.


nb : thank's to Setiadi untuk W150-nya, mantab hasilnya.
Langganan:
Postingan (Atom)



















