Tampilkan postingan dengan label surabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surabaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2012

Grill Spicy Chicken Teriyaki


Ini grill spicy chicken teriyaki-nya Chubo-Chubo. Isinya daging ayam fillet bakar, ebi maki, chicken roll, nasi dan salad. Daging ayam fillet bakarnya empuk dan gurih, sausnya juga lumayan enak. Ebi maki dan chicken roll-nya pun empuk. Salad sayur dihidangkan fresh lengkap dengan mayonaise. Cocok untuk makan siang kalau kita lagi jalan-jalan ke mall. Selamat mencoba!:)

Senin, 08 Agustus 2011

Morning Grey

Seorang nelayan sedang mempersiapkan perahunya untuk pergi melaut. Inilah salah satu pemandangan pagi yang dapat ditemui di Pantai Ria Kenjeran - Surabaya.

Jumat, 24 September 2010

Sop Buntut Sederhana


Namanya warung "Sederhana", ada di daerah Krembangan, Perak. Tempatnya sederhana, benar-benar sesederhana namanya. Hanya ada 4 kursi yang disediakan pemilik warung. Menu andalannya adalah sop buntut. Enak, dagingnya besar dan empuk, ditambah topping potongan wortel jadi tambah maknyus, cocok untuk sarapan bareng pasangan, hehe.

Silahkan dicoba. Harganya Rp. 20.000,- untuk paket berdua, sudah termasuk semangkuk besar sop buntut, 2 piring nasi, 2 gelas teh hangat dan senyum manis ibu penjualnya:)

Kamis, 26 Agustus 2010

Ayam Presto Telur Asin Malioboro


Bosan dengan olahan daging ayam yang itu-itu saja? Mungkin menu yang satu ini bisa menjadi alternatif yang patut dicoba, yap! Ayam Presto Telur Asin khas rumah makan Malioboro. Jadi daging ayam ini tidak langsung digoreng atau dibakar, tapi dipresto dulu. Dalam penyajiannya, di atas daging ayam yang sudah dipresto tadi disiram 'kuah' telur asin. Entah bagaimana caranya bisa sampai jadi kuah seperti itu, yang jelas memang disiramkan begitu saja sampai menutup seluruh permukaan daging.


Karena dipresto, daging ayam ini sangat empuk bahkan sampai tulangnya. Terasa makan daging semua pokoknya. Nggak salah si pemilik menyertakan tulisan "Nikmatnya terasa sampai ke tulang sumsum" di halaman depan brosurnya, hehe. Daging ayam yang soft di-mix dengan 'kuah' telur asin yang agak kasar, hmm rasakan sendiri sensasinya:)

Meskipun kali ini saya ditraktir, tapi harga 15 ribu rupiah perpotong atau 60 ribu rupiah per ekor saya rasa pantas untuk membanderol ayam tulang lunak ini. Jadi, bagi Anda yang di Surabaya silahkan datang ke rumah makan Malioboro ini di Jl. Manyar Kertoarjo atau Jl. Kartini. Silahkan juga untuk mencicipi menu lainnya. Enjoy! :)

Selasa, 26 Januari 2010

Field Trip To Mangrove




Kontributor
Abdoel Rosyid
--------------------------------------------------------------------------

Beberapa waktu lalu, tidak sengaja saya membaca sebuah artikel di surat kabar tentang wisata hutan mangrove di kawasan pantai timur Surabaya, "Wah, menarik nih", pikir saya. Saat itu juga saya bertekad liburan semester ini harus kesana, karena selain penasaran dengan tempat wisata baru ini juga karena lokasinya yang tidak jauh dari tempat kos saya. Aye!

Ekowisata Mangrove Wonorejo (EMW), terletak di kawasan pantai timur Surabaya, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut. Kawasan ini merupakan salah satu pusat konservasi mangrove yang digunakan sebagai penyangga ekosistem pantai khususnya untuk menahan abrasi. Selain itu kawasan ini juga sebagai tempat tinggal dan persinggahan dari banyak spesies burung.

Untuk menuju kawasan ini mudah kok, setelah melewati jembatan MERR IIC dari arah Semolowaru belok ke kiri menuju arah kampus STIKOM, setelah itu lurus saja ke timur sampai kelihatan gardu induk PLN, lalu belok kanan, disitu juga ada papan penunjuk lokasi wisata mangrove jadi kita tidak usah kuatir tersesat. Jangan heran juga jika menemui beberapa ruas jalan yang becek karena jalanan masih berupa tanah yang saat musim hujan seperti ini sering menimbulkan genangan.


Di EMW ini terdapat 3 pos pantau, tempat pertama kali kita sampai lokasi adalah pos pertama. Disini kita bisa temukan penjual makanan dan minuman ringan, tempat parkir yang luas, toilet, penjual tiket dan 'dermaga' perahu. Dari pos pantau pertama menuju pos pantau kedua kita akan menyusuri sungai menggunakan perahu motor. Perahu ini berkapasitas kurang lebih 40 orang. Untuk keamanan, pihak pengelola membagikan rompi rescue kepada setiap pengunjung yang naik perahu. Selain itu perahu kita akan diikuti oleh satu perahu tim SAR untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.


Butuh waktu kira-kira 15 menit untuk sampai pos pantau kedua. Selama menyusuri sungai, kita akan dimanjakan dengan pemandangan hutan mangrove di kanan kiri kita. Karena kawasan ini juga merupakan pusat konservasi burung maka jangan heran jika dalam perjalanan kita temui bermacam jenis burung yang berseliweran ataupun bertengger diatas rimbunnya mangrove. Dan juga karena lokasinya dekat dengan muara jadi jika kita melihat ada buaya di pinggir sungai itu adalah hal yang biasa.



Sesampainya di pos pantau kedua, kita akan disambut sepasang monyet. Monyet tadi sudah jinak kok, tapi jangan coba bikin gara-gara dengan dia karena dia akan marah dan menggigit. Dari pos dua menuju pos pantau ketiga kita akan melewati hutan mangrove menggunakan jalan yang terbuat dari bambu, kalau orang jawa menyebutnya 'treteg'. Saat itu air masih surut sehingga kita bisa turun dari treteg tadi untuk melihat mangrove lebih dekat.



 Saya dan teman-teman sempat berkenalan dengan seorang pemandu wisata mangrove ini, namanya mas Adzam. Dia dan beberapa orang lainnya adalah warga sekitar yang diberdayakan untuk membantu mengelola wisata ini. Dengan sabar dia menjawab semua pertanyaan pengunjung yang cerewet seperti kami ini, hehe. Dari dia kami bisa tahu wujud buah dari mangrove yang bisa dibuat sirup, kemudian juga yang bisa digunakan sebagai tinta untuk membuat batik mangrove, tapi sayang waktu itu kami tidak sempat mengunjungi lokasi pembuatannya karena hari sudah siang dan panas jadi kami malas mencari lokasinya.

 
Pos pantau ketiga berupa gazebo yang langsung berhadapan dengan selat Madura, tempatnya cukup luas dan nyaman karena kita bisa merasakan semilir angin laut disini. Kata mas Adzam, di gazebo ini kita bisa menikmati hidangan 'bandeng lempung' dan 'bandeng seset' asalkan beberapa hari sebelum kesana kita sudah memesannya. Bandeng lempung itu adalah ikan bandeng yang dibungkus tanah liat lalu dibakar, meskipun memakai tanah liat katanya sih gak bakal bau. Kalau bandeng seset itu ikan bandeng bakar gak pakai duri,itu juga katanya, hehe soalnya saya juga belum sempat nyoba, mungkin lain waktu.

Ada cerita menarik waktu kami akan meninggalkan pos pantau dua, bisa juga sih sebagai tips. Jadi kemarin itu si monyet (namanya Akad), sempat ngambek gara-gara digoda oleh salah satu pengelola. Mungkin ngambeknya belum hilang, waktu saya dan rombongan akan meninggalkan pos dua si monyet ini gak mau turun dari perahu, karena susah diusir jadinya terpaksa si monyet ini ikut dalam rombongan kami. Tak berapa lama setelah perahu jalan, si Akad mondar mandir disekitar rombongan bahkan sempat juga dia bertengger di atas kepala beberapa pengunjung. Nah, rombongan yang waktu itu kebanyakan wanita dan juga anak kecil pada ketakutan, sebenarnya kalau kita tenang si monyetpun juga akan diam. Namun karena keberanian orang beda-beda maka pengunjung yang panik membuat perahu goyang. Demi alasan keamanan, pak nahkoda akhirnya memutuskan kembali ke pos dua untuk mengembalikan monyet nakal ini. Entah kenapa tidak berapa lama setelah sampai pos dua, si monyet ini loncat sendiri meninggalkan perahu, mungkin dia sudah bosan ngerjain kami, hahaha ada-ada saja nih monyet.


Untuk waktu berkunjung, sementara ini EMW masih buka hanya hari sabtu dan minggu saja, menunggu tanggapan dari masyarakat dulu tapi jangan kuatir jam 6 pagi sudah buka hingga jam 4 sore.
Dan juga sebenarnya EMW ini masih membutuhkan beberapa pembenahan untuk benar-benar siap menjadi daerah wisata. Karena rencananya selain menambah jumlah gazebo, jalur trekking melewati treteg tadi akan ditambah sehingga kita bisa lebih lama menikmati mangrove dengan berjalan kaki. Wisata alam seperti ini memang sudah seharusnya dikembangkan dan dikelola dengan baik. Yah kita tunggu saja kedepannya jadi seperti apa kawasan wisata ini, harapan saya sih semoga tetap mempertahankan alamnya dan kalau bisa mangrovenya bisa semakin rimbun, GO GREEN!!!


special thanks to : Tri Eko yang udah ngidam pingin jalan-jalan, Rosyid untuk kameranya, dan Fajar yang katanya mau jadi sopir pribadi saya, piss ndud!:)

Sabtu, 21 Maret 2009

Kuliner On The Weekend

Weekend telah tiba, saatnya jalan-jalan, hehe. Dari awal minggu memang planning minggu ini acara jalan-jalannya adalah kuliner. Tentu saja sama si Prili, belahan hati (ohok..ohok..hehehe piss nduk) merangkap guideku selama hampir 3 tahun ini di Surabaya. Dari semalam kita bela-belain surfing internet untuk mencari kuliner Surabaya yang akan kita coba. Akhirnya Prili kasih ide untuk mencoba nasi bebek depan tugu Pahlawan, katanya sih enak tapi bukanya agak sorean. Sambil menunggu buka kita main-main dulu ke House of Sampoerna (HoS), soalnya walaupun si Prili rumahnya dekat situ tapi ternyata dia belum pernah kesana,hahaha (piss lagi nduk:)) Niatnya mau foto-foto, ternyata rame akhirnya ya tidak jadi. Puas lihat-lihat di Hos kita langsung meluncur ke Taman Bungkul, niatnya mau mencari view yang bagus sambil ngobrol, tapi karena sudah sore kita memutuskan langsung menuju tujuan utama kita, warung nasi bebek depan tugu Pahlawan yang katanya top markotop itu. Sampai disana ternyata penjualnya masih prepare-prepare mau buka warungnya,walah. Karena sudah sore dan perut tidak bisa diajak kompromi maka kita putuskan menuju warung bebek cak Yudi yang terkenal karena sambel 'pencitnya',waaah sudah tidak tahan nih,hehe.
Kata orang-orang yang sudah pernah kesana, kalau ingin kebagian kita disarankan kesana agak sorean soalnya kalau agak malam sering tidak kebagian. Wah jadi takut nih soalnya sudah jam 5, tapi ternyata sampai sana bebeknya masih ada,untung saja. Sampai disana sama penjualnya ditawari jeroan tapi karena lagi tidak pengen makan jeroan jadi kita hanya memesan 2 porsi bebek plus 2 gelas es teh,hmmm...maknyos!!ni aku kasih gambarnya!
Porsi nasinya menurutku lumayan, bebeknya juga lumayan besar. Kalau rasa dagingnya, enak dan empuk.Syiip dah! Tapi yang paling penting adalah sambel 'pencit'nya... cabe yang pedes dicampur mangga muda yang asem, ssshhhhh...aaahhh...sensasinya di lidah mmmmpphhhh...maknyoz!! Tapi awas yang perutnya tidak biasa makan pedes campur asem, jangan banyak-banyak makan sambelnya ya,hehe. Penutupnya adalah always es teh manis, selain seger juga bisa sedikit mengurangi sensasi sambel 'pencit'nya di lidah, segeerrr..!!
Setelah baca langsung nyoba ya, tempatnya di daerah perak, gampang kok mencarinya, tanya saja orang daerah situ tempatnya bebek cak Yudi dimana, pasti tau:) Jadi selamat mencoba.

Salam hijau.

Pentol Bakar Es Teh Manis

Berawal dari kunjungan adikku ke Surabaya, mau tidak mau aku harus jadi guidenya, padahal siang itu aku masih menghadiri acara wisuda teman, tapi tidak apa-apalah, jarang-jarang adikku ke Surabaya:). Dari acara wisuda teman aku dan Prili langsung ke gubeng jemput adikku, karena sudah masuk jam makan siang, perut sudah mulai keroncongan. Awalnya aku pengen ajak makan didaerah SMA komplek, maklum udah lama tidak makan mie 'petek' depan SMA komplek atau kalau tidak ada ya sotonya cak To yang maknyuz, tapi aku lupa kalau hari itu hari minggu jadi hasrat makan mie 'petek' harus ditahan. Sedih. Akhirnya si Prili kasih ide makan didaerah kampus B, didepannya tepatnya, katanya sih harganya lumayan murah. Ya sudah akhirnya kita bertiga langsung menuju kesana. Kesan pertama liat warungnya sih lumayan bersih, sedia masakan chinese gitu, koloke, fu yung hai dan kawan-kawan. Namanya kalau tidak salah warung 'Airlangga', pinggirnya cafe Piza. Dari menu yang ditawarkan, aku tertarik dengan satu menu yang 'nyeleneh' dari teman-temannya dalam daftar menu, nasi bakso bakar. Akhirnya aku putuskan memilih menu itu plus es teh manis karena udara siang itu panas banget jadi hasrat minum yang dingin-ding semakin menggebu. Kira-kira 15 menit menunggu, akhirnya pesananku datang. Setelah melihat pesananku, menurutku salah kalau namanya nasi bakso bakar karena tidak ada setetespun kuah yang dihidangkan, lebih tepat kalau diberi nama nasi pentol bakar.
Seperti yang ada di foto, cuma ada nasi, pentol dan sambal kecap. Kalau boleh aku komentar, menurutku pentolnya enak, bumbunya terasa soalnya pentolnya dipotong seperti tukang buah motong kedondong jadi bagian dalamnya juga ikut terkena bumbu. Rasa khas daging yang dibakar juga tidak ketinggalan. Nasinya lumayan banyak, ada taburan bawang gorengnya, jadi semakin terasa gurih. Sambel kecapnya juga lumayan, ada irisan cabenya jadi kalau pas cabenya ikut termakan ya, maknyoz, hahaha. Apalagi waktu itu udara panas sekali wah bisa dibayangkan panas-panas makan cabe, dijamin keringat meleleh, hehehe. Untung aja ada es teh jumbo, jadi bisa langsung teguk, uuaah...segar! Masalah harga lumayanlah, 6000 perak kalau tidak salah. Kalau tertarik, coba ya?!:)

Salam hijau.

Ads Inside Post