Tampilkan postingan dengan label malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label malang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Oktober 2010

Lampion Garden BNS


BNS (Batu Night Spectacular) sebenarnya sudah lama dibuka tapi baru beberapa waktu lalu saya sempat kesana. Yang membuat saya tertarik dengan tempat wisata ini adalah wahana lampion garden-nya. Memang, dari cerita teman-teman yang sudah pernah kesana, wahana inilah yang katanya wajib dikunjungi selain bioskop 4D.

Di lampion garden ini, kita akan disuguhi sebuah taman yang cukup luas, berisi aneka macam bentuk lampion mulai dari tokoh-tokoh kartun Walt Disney hingga miniatur landmark beberapa kota di dunia seperti menara Eiffel dan menara Petronas. Tidak hanya itu saja, beberapa bentuk hewan juga ada lampionnya. Ada angsa, bebek, capung, flamingo dan masih banyak lagi.


Di taman ini juga ada beberapa bangku untuk bersantai dengan background lampion berbentuk hati. Hampir bisa dipastikan jika ada muda mudi yang datang kesini pasti spot ini tidak akan luput jadi background berfoto. Bagi mereka yang sedang kasmaran, bisa jadi spot ini dijadikan tempat untuk mengungkapkan isi hati pada gebetan, sesuai dengan tulisan di pintu masuk wahana ini, "Ungkapkan kasih sayang hanya di lampion garden", hehehe.


Untuk weekend dan hari libur, kita dikenakan tiket masuk seharga Rp. 10.000,- sedangkan hari biasa cukup  Rp.7000,- saja. Jadi jika weekend tidak ada kegiatan dan bingung mau kemana, tidak ada salahnya mencoba tempat wisata yang terletak di daerah Batu, Malang ini.



Minggu, 16 Mei 2010

Di Atas Gerbong Penataran

Tepat pukul 04.45, kereta api Penataran yang saya tumpangi perlahan mulai bergerak meninggalkan stasiun Gubeng. Bersama seorang teman kos, panggil saja Fajar, kami kebetulan naik di gerbong paling buntut yang penerangannya remang-remang menuju gelap. Di gerbong ini masih sepi penumpang, membuat kami leluasa memilih bangku kosong mana yang kami suka.

Sengaja saya pilih bangku dengan seat 3, maksudnya biar saya bisa tidur sambil berselonjor ria. Hehe, apatis! Sikap saya ini bukan tanpa alasan, tengah malam saya baru bisa tidur lalu pagi jam empat sudah harus siap-siap pergi ke Gubeng, huah mata ini masih terasa berat untuk melek, ngantuk banget!

Haha, ternyata sikap apatis saya cukup sampai stasiun Wonokromo saja, soalnya ada bapak-bapak minta izin untuk duduk sebangku dengan saya. Ya jelas saya kasih izinlah, lha memang kereta ini bukan milik keluarga saya. Hehe.

Semula perjalanan ini lancar-lancar saja. Selain bau ban yang kurang sedap yang dibawa bapak-bapak disamping saya, mungkin hanya bau asap rokok yang sedikit mengusik hidung saya. Tapi setelah dari stasiun Waru, hidung saya mulai terganggu dengan bau 'busuk' yang entah dari mana asalnya. Gila! Ini sih bukan kurang sedap lagi, tapi enggak sedap sama sekali! Baunya seperti kaos kaki setengah kering yang sebelumnya sudah direndam 3 hari, lalu tanpa dicuci dengan detergen langsung dijemur. Yaiks!

Penderitaan saya bertambah, mas-mas setengah baya disamping saya (bukan bapak-bapak tadi) tidur dengan kaki mengangkang lebih dari 90 derajat yang memaksa saya untuk lebih mengatupkan kaki. Arrgh, sempit iki lho mas! Bukan hanya itu, saat saya sudah mulai merem melek, tiba-tiba dia terbangun lalu muter mp3 di hp-nya dengan volume hampir maksimal, kenceng banget! Lagunya? Dangdut koplo cuy! Hiyaaa. Maaf,bukannya saya meremehkan jenis musik ini, tapi kebetulan saya memang kurang suka, jadi sah saja saya merasa terganggu. Parahnya, setelah muter mp3 itu dia langsung tidur lagi. Oalah mas, kok enggak sungkan sama kakek-nenek depanmu itu.

Oya, sebelum turun dari kereta,ada seorang penjual mamiri yang dikerjai seorang bapak-bapak penumpang. Bapak itu tanya, "Mas, banci iku iso manak gak?" (baca:Mas, banci itu bisa beranak enggak?). Kalau saya yang ditanya ya jelas saya jawab enggak bisa, mas penjual mamiri pun juga jawabnya enggak mungkin banci bisa beranak. Tapi si Bapak malah balik tanya, "Tapi kok nang ndunyo tambah akeh yo?" (baca:Tapi kok di dunia tambah banyak ya?). Wahahahaha...jayus pak!

Selasa, 26 Januari 2010

Burn Outside Sweet Inside









Kontributor
Fajar 'Ndud' Dwinugroho adalah seorang traveler dan hiker.Seorang sportholic khususnya futsal dan badminton. Penyuka tetralogi Laskar Pelangi ini juga merupakan seorang penikmat tembang-tembang Jawa.
----------------------------------------------------------------------------------


Ketika beberapa kali melewati jalan raya Malang-Surabaya, ada hal yang menarik perhatian saya. Di pinggiran jalan ada papan bertuliskan "ubi madu". Ya, ubi madu atau yang biasa dikenal dengan sebutan ubi cilembu ini cukup membuat saya penasaran untuk mencicipinya.

Mungkin bagi warga Sumedang dan sekitarnya, tentu penganan ini tidak akan sukar didapat karena ubi ini merupakan ras lokal kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Sumedang. Namun bagi saya yang asli Jawa Timur, ubi cilembu ini merupakan kuliner baru yang wajib diincip. Hingga pada suatu sore dibawah rintik hujan, saat melintas daerah Singosari, saya mampir di salah satu kios penjual ubi madu tersebut. Selain ingin beli, sebenarnya saya juga ingin tahu banyak tentang ubi cilembu ini. Saat masuk kios, ternyata mas penjualnya yang bisa saya tebak asli Sunda ini (dari logat bicaranya) telah menyediakan ubi yang sudah di bakar, jadi saya tidak butuh waktu lama untuk bisa langsung "ngicipi" ubi yang menurut kebanyakan orang sangat nikmat ini.

Harga untuk ubi yang fresh from the oven dibanderol 15 ribu rupiah per kg nya sedangkan yang masih mentah cukup 10 ribu rupiah saja. Awalnya saya beli setengah kilo saja, mau nyoba dulu gimana rasanya. Saya ambil satu ubi yang agak besar, lalu saya potong separuh. Sesaat setelah saya potong tadi tiba-tiba dari dalam ubi keluar cairan berwarna coklat keemasan agak lengket dan kental, semacam madu. Melihat hal yang eksotis di depan mata tersebut, saya semakin bernafsu dan mulai memasukkan potongan ubi tadi ke dalam mulut. "Cccrroottt..", ketika ubi terlumat di mulut saya, saya merasakan suatu rasa yang hhmmmmmm, enak! Perpaduan rasa ubi yang nikmat ditambah rasa manis yang berasal dari cairan dalam ubi itu membuat satu paduan yang lezat.



Saya terkejut dengan rasa nikmat yang dihadirkan si ubi. Apalagi si ubi hadir dengan balutan manis dari "madu" nya. Ketika tengah asyik menikmati ubi, ada seorang ibu di dalam angkot yang berada di depan kios memandangi saya dengan mimik muka heran. Mungkin dalam pikirannya,"Arek lemu iki mangan opo yo? kok, ketho'e wuenak banget." (anak gendut ini sedang makan apa ya? kok sepertinya enak sekali-red).

Menurut mas yang njual, cairan manis ini bisa keluar dengan optimal jika si ubi di oven atau dibakar. Jika di goreng, cairan 'madu' nya ngga' bakal keluar. Kalo dikukus? "Kalo dikukus mah, madunya ngga' keluar sebanyak kalo di ophen ato di bakar". Setelah melahap habis setengah kilo ubi, ternyata saya masih kurang. Yah mau gimana lagi, terpaksa deh nambah setengah kilo lagi, hehehe.

Rabu, 04 November 2009

Memorable Sempu

Alhamdulillah, akhirnya tercapai juga mimpi saya untuk menjelajah pulau Sempu bersama teman-teman kuliah saya. Awalnya saat H-2 saya sempat ragu untuk ikut karena kondisi kesehatan yang kurang memungkinkan, badan meriang, batuk ditambah lagi teman saya bilang ini adalah gejala demam berdarah. What?! DB?! Seketika itu juga bayangan indahnya pulau Sempu tiba-tiba berubah menjadi salah satu kamar inap di RS Haji. Astagfirullah, cepat-cepat saya hilangkan pikiran itu. Sampai akhirnya, dengan berbekal do'a dan mimpi ingin melihat indahnya Sempu, saat hari H saya ikut juga.

Berangkat dari Surabaya sekitar jam dua belas malam menggunakan tiga buah mobil, kami ber dua puluh dua orang meluncur menuju arah Malang. Perjalanan pada malam hari jelas lebih menghemat waktu karena jalanan yang masih sepi. Setelah beberapa saat istirahat di POM bensin daerah Turen, kami lanjutkan perjalanan melewati jalan pegunungan yang tidak terlalu lebar dan yang pasti berkelok-kelok menuju selatan Malang.

Sekitar jam setengah tujuh pagi, sampai juga kami di pantai Sendang Biru. Harus saya akui, baru pertama kali ini saya pergi ke pantai pagi-pagi. Tenang dan menyejukkan. Sendang Biru cukup bersih, yah paling tidak saya tidak menjumpai benda bulat lonjong berwarna 'kuning keemasan' yang berseliweran. Mobil kami titipkan di halaman salah seorang warga Sendang Biru, pak Kardi namanya.

Jangan harap ada kapal sejenis Titanic dengan segala kemewahannya disini karena perjalanan dari Sendang Biru ke Sempu hanya butuh waktu sekitar 10 menit, jadi perahu motor sederhana saja rasanya sudah cukup, hehe. Sistem sewa perahu disini adalah antar jemput, jadi kita harus janjian dulu ingin dijemput jam berapa dari Sempu karena sinyal seluler di Sempu kurang bagus.

Seperti kebanyakan daerah konservasi pantai lainnya, tepian pulau Sempu juga ditumbuhi bakau yang lumayan besar. Saat itu air masih pasang sehingga perahu bisa mengantar kami sampai bibir pulau. Tujuan utama menjelajah Sempu adalah melihat Segara Anakan. Sebuah cekungan besar berisi air laut yang dikelilingi batu karang, sehingga terlindung dari ganasnya ombak Samudera Hindia.

Track yang harus dilalui untuk sampai ke Segara Anakan adalah jalan setapak yang medannya berupa tanjakan dan turunan, sulur dan akar pohon yang besar-besar tidak pernah hilang dari pandangan. Terkadang kita juga harus melompati pohon besar yang tumbang, melewati jembatan kecil dan juga bebatuan. Suara kicauan burung dan bau khas hutan di pagi hari sungguh membuat saya lupa kalau sebenarnya kami semua belum sarapan. Krukk. Krukk. Hahaha whatever, saat itu yang ada di pikiran saya adalah sesegera mungkin melihat Segara Anakan yang eksotis itu.

Setelah kira-kira 45 menit berjalan, suara gemuruh ombak mulai terdengar. Rasa ingin tahu saya semakin membuncah saat mulai terlihat bakau yang menandakan bahwa pantai sudah dekat. Dan tak lama kemudian pemandangan Segara Anakan sudah tersaji di depan mata. Subhanallah, airnya jernih, tenang, pasirnya putih dan dikelilingi karang yang ditumbuhi pepohonan hijau. Namun sayang pemandangan yang apik itu jadi ada nilai minusnya akibat sampah pengunjung yang berceceran.

Selain dari tepian, keindahan Segara Anakan juga bisa dinikmati dari atas tebing karang. Lebih bagus malah. Jadi jika kita melihat dari atas tebing, di sisi utara kita bisa melihat Segara Anakan yang warna airnya terlihat hijau dan di sisi selatan adalah birunya Samudera Hindia yang luas dengan barisan karang-karangnya yang besar. Sungguh perpaduan yang apik antara keindahan dan kemegahan.

Sebenarnya sih sudah ada papan larangan untuk tidak memanjat tebing karang ini tapi dasar manusia, semakin dilarang, rasa penasaran akan semakin menjadi-jadi. Akhirnya saya, Hudan, Faridz, Ita, Nimas dan Kak Ayu nyerah dengan rasa penasaran kami, nekat bergelantungan manjat tebing karang, kapan lagi nyobain rockclimbing seperti ini, kalau di kota mah yang ada hanya panjat pinang itu saja setahun sekali waktu Agustusan.

Sempat terjadi perdebatan apakah dari Segara Anakan mau langsung pulang atau tracking lagi ke pantai Pasir Panjang. Setelah berembuk akhirnya dicapai kesepakatan untuk tracking lagi ke Pasir Panjang. Untuk menuju pantai ini harus melewati 3 pantai lagi dari Segara Anakan yang artinya kami harus naik turun bukit sebanyak empat kali lagi. Wew! Jadi inget soundtrack ninja Hattori yang versi Indonesia. Ternyata setelah pantai kedua, beberapa orang teman sudah nyerah untuk melanjutkan ke Pasir Panjang. Akhirnya kami putuskan untuk kembali menuju tempat jemputan perahu.

Saya tidak tahu nama pantai kedua ini, yang jelas pantai ini tidak kalah bagus dengan Segara Anakan. Bedanya, kalau di Segara Anakan airnya cukup tenang sedangkan di pantai ini karena langsung berhadapan dengan Samudera Hindia jadi ombaknya cukup besar.Sangar!

Pantai Selatan memang memiliki daya magis yang luar biasa. Membuat kebanyakan orang yang melihat akan senantiasa tertarik untuk mendekat meskipun ombak pantai selatan seperti itu, paling tidak salah seorang teman saya telah membuktikannya. Begitu excited-nya dia hingga peringatan dari kami sempat dia abaikan. Tak berapa lama kemudian datanglah ombak menerjang tubuhnya. Untungnya saat itu dia berpegang erat pada karang di depannya sehingga bisa dia jadikan tumpuan. Beberapa dari kami yang dari tadi terus mengawasi secara spontan berlarian menjemputnya, ternyata kakinya kram makanya dia tidak segera menghindar tadi. Alhamdulillah, tidak jadi masuk berita surat kabar lokal.

Perjalanan pulang menuju tempat jemputan perahu membutuhkan waktu lebih lama jika dibandingkan saat berangkat karena selain stamina yang sudah terkuras, ada salah seorang teman yang kakinya kram sehigga perlu istirahat agak lama. Untuk tips, sebaiknya jangan menggunakan sandal jepit saat tracking ke Sempu, terlebih lagi sandal klompen, karena medan yang naik turun dan agak licin sangat beresiko membuat kita terpeleset dan kram. Gunakan sandal gunung atau sepatu yang grid bagian bawahnya cukup kasar.

Kami tiba di bibir pulau sekitar jam 1 siang dan tarraaaa..!!! Air sudah sudah surut dan perahu berada agak jauh ke tengah teluk sodara-sodara! Mari lanjutkan perjuangan menuju perahu melewati karang-karang kecil yang lumayan tajam. Sebenarnya sih bukan masalah bagi saya tapi karena kaki saya saat itu sudah lecet, jadi saat terkena air laut bisa tahu sendiri perihnya gimana. Aihh! Salah satu lirik lagu Anggur Merah milik almarhum bang Meggy ternyata bener.

Fasilitas di Sendang Biru cukup lengkap, mulai dari penginapan, mushola, tempat parkir hingga toko kelontong. Oiya yang paling penting adalah toilet umum karena setelah tracking di Sempu, badan yang kotor dan cuaca pantai yang cukup panas akan membuat kita ingin segera mandi. Terdapat enam toilet umum di Sendang Biru yang tentunya kita harus bayar, waktu itu saya dapat toilet yang atapnya terbuka, jadi jika melihat ke atas yang terlihat ya langit dan pepohonan, tidak jarang juga burung-burung berseliweran di atas saya. Untung tidak ada yang pengen, liat temannya mandi. Haha.

Satu hal yang paling saya syukuri selain kami semua selamat sampai rumah atau kos masing-masing adalah cuaca saat di Sempu cukup cerah dan hanya sedikit mendung, tidak sampai hujan. Sungguh pengalaman yang memorable.

Special thanks to:
Hudan, Faridz, dan Wakhid, para driver tangguh yang nyetir mobil kami pulang pergi Sendang Biru - Surabaya. Setiadi untuk kamera w-150 nya, kameramu memang keren Setz, teman-temanku mengakuinya, haha. Hanif untuk tripodnya, berkat tripodmu kami bisa foto full team dan salah satu hasil fotonya dinobatkan sebagai foto terbaik, versi kami tentunya, hehe. Teman-temanku semua, dua puluh dua orang yang goxkil abis, persiapkan travelling selanjutnya.

Ads Inside Post