Tampilkan postingan dengan label jawa timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jawa timur. Tampilkan semua postingan
Jumat, 20 Januari 2012
Menikmati Pagi Di Pantai Klayar
Pacitan memang terkenal dengan sebutan Kota 1001 Gua, namun keindahan pantainya juga tidak kalah mempesona. Salah satu pantai yang paling sering menjadi tujuan wisata di Pacitan adalah Pantai Klayar. Meskipun belum sepopuler pantai-pantai di selatan Pulau Jawa seperti Parangtritis dan Plengkung, tapi Pantai Klayar akan memberikan kesan tersendiri bagi pengunjungnya. Pantai Klayar terletak sekitar 45 km sebelah barat Pacitan. Pantai ini dapat dicapai dengan sepeda motor ataupun mobil.
Akses jalan yang sempit, beberapa tanjakan dan turunan yang curam serta jaraknya yang jauh dari kota merupakan tantangan tersendiri bagi pengunjungnya, khususnya bagi para driver. Namun jangan kuatir, sepanjang perjalanan kita akan selalu dimanjakan dengan pemandangan bukit hijau yang menyejukkan mata. Udara perbukitan yang masih segar saat pagi hari semakin membuat saya menikmati perjalanan ini. Kadang kita juga akan menjumpai beberapa orang penduduk yang kebetulan berpapasan dengan kita. Dengan senyum yang ramah, mereka tanpa segan akan menyapa kita.
Jika datang kesini lebih pagi, kita akan bisa menikmati sunrise-nya yang muncul dari balik bukit. Sunrise di pantai ini terlihat cantik, ditambah lagi arak-arakan awan yang masih menutupi sebagian langit Pacitan, membuat pemandangan ini semakin menarik. Untuk melihat Pantai Klayar secara utuh, kita bisa naik ke bukit karang yang ada di sebelah kanan pantai ini. Pihak pengelola pantai sudah menyediakan jalan setapak untuk memudahkan pengunjung menuju bukit karang ini. Dari atas bukit ini, lagi-lagi saya dibuat takjub dengan hamparan Samudra Hindia yang terpampang di depan saya. Sungguh perpaduan yang apik antara kemegahan dan keindahan. Berjalan menyusuri pantai menuju ke timur, kita akan menjumpai muara sungai yang airnya jernih dan tenang. Dipinggirnya berjajar pohon-pohon kelapa yang merupakan vegetasi pantai yang menjadi kebanggaan warga Pacitan ini. Sungguh pemandangan pagi yang menyejukkan hati.
Sebenarnya ada satu lagi yang menjadi obyek andalan di Pantai Klayar yaitu seruling laut yang berasal dari sebuah celah di batu karang ini. Ketika ombak besar datang, sebagian airnya akan masuk melalui celah tersebut dan menyembur ke atas menciptakan sebuah air mancur raksasa yang luar biasa. Air mancur ini juga disertai dengan suara mirip siulan oleh karena itu air mancur ini disebut seruling laut. Untuk menikmati fenomena alam ini dari dekat tergantung keberuntungan, kalau ombak lagi tinggi, penjaga pantai tidak akan mengijinkan kita untuk mendekatinya, seperti saat saya kesana beberapa waktu lalu. Terlepas dari itu semua, Pantai Klayar memang patut menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Jawa Timur karena menyuguhkan pemandangan alam yang luar biasa.
Berjalan Menembus Kabut Lautan Pasir Gunung Bromo
Lautan Pasir Gunung Bromo yang dikelilingi bukit dan pegunungan ibarat sebuah cawan raksasa kosong tak berisi pada siang hari. Kondisi ini akan sangat berbeda jika sudah menjelang malam hingga pagi hari. Cawan raksasa yang tadinya kosong ini akan terisi penuh dengan kabut. Sudah bisa dibayangkan betapa dinginnya udara di dalam sana. Namun inilah tantangannya, saya dan empat orang saudara saya waktu itu sepakat untuk melintasi lautan pasir Bromo ini dengan berjalan kaki.
Pukul 03.30 kami berangkat dari homestay. Berbekal senter seadanya, kami berlima mulai menyusuri lautan pasir mengikuti pathok-pathok pembatas kawasan Gunung Bromo, karena itulah petunjuk kami supaya tidak kesasar.
Dan ternyata melintasi lautan pasir Bromo ini tidak semudah yang kami bayangkan. Kami harus berhadapan langsung dengan kabut tebal yang saat itu mulai turun memenuhi lautan pasir ini. Selain itu, debu dari lalu lalang hardtop yang seperti arak-arakan pejabat itu juga sangat mengganggu pernafasan. Jadi, bagi pejalan seperti kami, memakai masker hukumnya wajib saat melintasi kawasan ini. Tak hanya itu, kombinasi kabut dan debu tadi ternyata juga sukses membuat jarak pandang semakin terbatas. Dan sekali lagi, memang inilah tantangannya.
Setelah hampir 1,5 jam berjalan, akhirnya kami sampai juga di starting point pendakian ke kawah Gunung Bromo. Disitu sudah ramai orang yang sedang bersiap-siap. Banyak yang menawarkan ojek kuda, tapi kami tetap memegang teguh keinginan kami untuk berjalan kaki hingga bibir kawah Gunung Bromo. Ojek kuda disini rupanya telah terorganisir dengan baik. Jadi setiap pemilik diberi identitas berupa nomor urut, mereka tidak perlu berebut mencari pelanggan. Mereka tinggal menunggu giliran dipanggil sesuai nomor urutnya.
Sesampainya di bibir kawah, pemandangan yang luar biasa indah terhampar di hadapan kami. Sunrise yang menawan di atas kabut yang seperti gumpalan kapas raksasa itu sungguh pemandangan yang menakjubkan. Benar-benar pagi yang sempurna. Puas menikmati pemandangan dari bibir kawah, kamipun melewati lautan pasir lagi untuk kembali ke homestay. Saat perjalanan pulang ini, kabut berangsur-angsur mulai hilang. Dan akhirnya sekitar pukul 8 kabut sudah benar-benar hilang dari lautan pasir Bromo. Deretan bukit-bukit hijau disekitar Gunung Bromo sepenuhnya terlihat. Hardtop-hardtop yang membawa para pelancong juga tampak rapi berwarna-warni. Semoga sampai kapanpun Bromo akan tetap menawan seperti ini.
nb : Sebenarnya saya sudah pernah posting tulisan tentang perjalanan menembus kabut Bromo ini, tapi karena menurut salah seorang teman, postingan saya itu sedikit disgusting jadi saya edit lagi jadi seperti ini. Tapi kalau masih ingin baca yang disgusting tadi bisa dibaca di sini.
Senin, 08 Agustus 2011
Monumen Simpang Lima Gumul, Arc de Triomphe-nya Kediri
Kalau Paris punya Arch de Triomphe, maka warga Kediri bangga dengan Monumen Simpang Lima Gumul-nya. Jika dilihat sekilas, bentuk kedua bangunan ini memang tampak sama, hanya saja jika dilihat pahatan relief di dindingnya maka akan nampak perbedaannya. Relief di dinding Monumen Simpang Lima Gumul terlihat lebih bernuansa lokal dan sederhana. Monumen yang mulai dibangun pada tahun 2003 ini terletak di Desa Tugurejo, Kec. Gampengrejo, Kab. Kediri - Jawa Timur. Letaknya yang berada diantara lima persimpangan jalan, membuat monumen ini ibarat sebuah jantung pusat bertemunya arus lalu lintas dari arah sekitar Kediri yaitu Wates, Gurah, Pagu, Pare dan Kota Kediri.
Monumen Simpang Lima Gumul terlihat begitu megah hingga sempat membuat saya takjub saat pertama kali datang kesana. Barisan pohon sawit yang tertata apik dan rumput yang terpangkas rapi, nampaknya dapat memberikan sedikit kesan asri pada monumen ini. Area di sekitar monumen juga nampak bersih dan terawat. Waktu saya kesana tidak terlihat satupun pedagang kaki lima yang mangkal di sekitar area monumen. Entah karena memang bukanya agak malam atau memang tidak ada, yang jelas waktu itu saya hanya melihat sesama pengunjung saja. Yang unik dari monumen ini adalah dibangunannya terowongan bawah tanah yang menghubungkan area parkir dengan area monumen. Jangan dibayangkan terowongan ini sempit dan pengap seperti goa-goa jaman penjajahan jepang dulu, terowongan yang ada di monumen ini adalah terowongan modern yang dindingnya sudah di cor disertai penerangan yang memadai. Tidak ada tarif yang dikenakan untuk menikmati kemegahan bangunan ini dari dekat, kalaupun harus mengeluarkan uang mungkin hanya untuk biaya parkir dan toilet saja.
Saya merasa beruntung bisa tiba disana saat senja karena nampaknya menjadi momen yang pas untuk menikmati kemegahan bangunan kebanggaan warga Kediri ini. Langit yang masih biru dengan matahari sudah hampir tenggelam, ditambah temaramnya lampu yang senada dengan warna dindingnya, membuat Monumen Simpang Lima Gumul terlihat semakin cantik. Maka tak heran kalau monumen yang menjadi ikon Kabupaten Kediri ini selalu ramai pengunjungnya, apalagi saat malam hari. Kebanyakan dari mereka hanya sekedar duduk santai ataupun foto-foto menikmati waktu luangnya disini bersama kerabat ataupun teman.
Morning Grey
Sabtu, 09 Oktober 2010
Lampion Garden BNS
BNS (Batu Night Spectacular) sebenarnya sudah lama dibuka tapi baru beberapa waktu lalu saya sempat kesana. Yang membuat saya tertarik dengan tempat wisata ini adalah wahana lampion garden-nya. Memang, dari cerita teman-teman yang sudah pernah kesana, wahana inilah yang katanya wajib dikunjungi selain bioskop 4D.
Di lampion garden ini, kita akan disuguhi sebuah taman yang cukup luas, berisi aneka macam bentuk lampion mulai dari tokoh-tokoh kartun Walt Disney hingga miniatur landmark beberapa kota di dunia seperti menara Eiffel dan menara Petronas. Tidak hanya itu saja, beberapa bentuk hewan juga ada lampionnya. Ada angsa, bebek, capung, flamingo dan masih banyak lagi.
Di taman ini juga ada beberapa bangku untuk bersantai dengan background lampion berbentuk hati. Hampir bisa dipastikan jika ada muda mudi yang datang kesini pasti spot ini tidak akan luput jadi background berfoto. Bagi mereka yang sedang kasmaran, bisa jadi spot ini dijadikan tempat untuk mengungkapkan isi hati pada gebetan, sesuai dengan tulisan di pintu masuk wahana ini, "Ungkapkan kasih sayang hanya di lampion garden", hehehe.
Untuk weekend dan hari libur, kita dikenakan tiket masuk seharga Rp. 10.000,- sedangkan hari biasa cukup Rp.7000,- saja. Jadi jika weekend tidak ada kegiatan dan bingung mau kemana, tidak ada salahnya mencoba tempat wisata yang terletak di daerah Batu, Malang ini.
Selasa, 21 September 2010
Berjalan Menembus Kabut Bromo
Nama Gunung Bromo memang sudah tersohor hingga mancanegara, tak heran jika banyak pelancong ingin mengunjunginya. Banyak alternatif akomodasi untuk menuju lokasi gunung nan eksotis ini, hardtop, ojek, ataupun kuda selalu siap sedia mengantarkan kita. Namun dengan dalih menghemat pengeluaran, saya, adik dan 3 orang sepupu saya kali ini memutuskan jalan kaki saja.
Pukul 03.30 kami berangkat dari homestay. Setelah kira-kira 20 menit berjalan, akhirnya kami sampai di lautan pasir. Berbekal senter seadanya, kami berlima mulai menyusuri lautan pasir mengikuti pathok-pathok pembatas kawasan Gunung Bromo, karena itulah acuan kami supaya tidak kesasar. Bagi pejalan seperti kami, memakai masker hukumnya wajib saat melintasi kawasan ini. Kabut yang begitu tebal ditambah debu dari lalu-lalang hardtop yang seperti arak-arakan pejabat itu, akan sangat mengganggu pernafasan. Selain itu, kombinasi kabut dan debu tadi akan secara otomatis membuat jarak pandang semakin terbatas.
Setelah hampir 1,5 jam berjalan, akhirnya sampai juga di starting point pendakian ke puncak Bromo. Disitu sudah ramai orang yang sedang bersiap-siap mau muncak. Banyak yang menawarkan ojek kuda, tapi kami tetap setia dengan prinsip 'jalan kaki' kami, hehe. Ojek kuda disini rupanya sudah diorganisir dengan baik. Jadi setiap pemilik diberi identitas berupa nomor urut, mereka tidak perlu berebut mencari pelanggan. Mereka tinggal menunggu giliran dipanggil sesuai nomor urutnya.
Dalam perjalanan menuju kawah Bromo, saya sempat melihat seorang ibu berjalan dengan membawa serta anaknya yang masih bayi. Tidak hanya itu, saya juga melihat seorang nenek yang mengenakan sewek (kain jarik) sedang dituntun oleh anaknya menapaki jalan pasir menuju kawah Bromo. Saat ditawari naik kuda, si nenek malah menolak dan dengan semangat menjawab, "Wong mbahe sik kuat kok, le". Wahuuu! Keep rock 'n roll, mbah!
Kabut saat itu masih tetap tebal. Masker sarung yang saya pakai sejak di lautan pasir ternyata sudah tidak mempan lagi. Alhasil, hidung saya mulai bereaksi, bersin-bersin dengan ekstrim. Sudah hampir 2 pack tissu ukuran sedang saya habiskan sepanjang perjalanan, tapi si ingus belum juga mampet. Bahkan saking jengkelnya, saya biarkan saja dia netes-netes di pasir. Untung saja keadaan sekitar masih berkabut jadi kelakuan tidak berperi kesopanan itu tidak sempat membuat heboh pengunjung lain.
Lain halnya dengan salah satu sepupu saya, sebut saja AK-nama disamarkan, memang benar hidungnya baik-baik saja tapi tidak dengan perutnya. Sejak di starting point sebenarnya dia sudah mengeluh sakit perut, ingin buang 'perbekalan' katanya. Namun, karena toilet masih tutup maka kami tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dalam perjalanan pulang menuju starting point, rupanya hasrat ingin buang 'perbekalan' itu sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dengan hanya berbekal tissu, tanpa basa-basi dia langsung cari semak-semak, memenuhi hasratnya itu. "Krrskkk..krrskkk..", sepuluh menit dia baru muncul lagi. Sebenarnya hasrat buang 'perbekalan' sepupu saya di Bromo tidak hanya kali itu saja, tapi tidak usahlah saya ceritakan semua, cukup satu itu saja, hehe.Inilah salah satu berkah jalan kaki, misalkan saja kita naik kuda lalu kebelet seperti itu, masak si bapak dan kudanya disuruh nunggu kita?
Ternyata dinginnya kabut Bromo juga dirasakan pengunjung lain. Buktinya, toilet sampai antri seperti antri minyak subsidi, terutama toilet cewek. Saya yang dari tadi juga kebelet buang air kecil sedikit lega karena dari kejauhan, area toilet cowok tampak lengang. Begitu saya mendekat, jeng!jeng! Ternyata disana sudah ada beberapa orang cewek yang didominasi kaum ibu sedang antri. “Nggak salah masuk toilet toh bu?”, tanya mas-mas di pinggir saya. “Toilet cewek antri panjaaang mas, sudah kebelet ini”, jawab mereka kompak. Jiaahhhh…!!! Pantas saja negara ini nggak maju-maju, lha sebagian warganya suka menyabotase teritori pribadi orang lain.
Dan akhirnya sekitar pukul 8 pagi, kabut sudah hilang. Pemandangan bukit-bukit yang indah disekitar Gunung Bromo sepenuhnya terlihat. Hardtop-hardtop yang membawa para pengunjung juga tampak rapi berwarna-warni. Sebelum kembali ke homestay, kami berlima sempat minum kopi di warung sekitaran toilet. Disela-sela kami minum kopi, si Yusi, sepupu saya, nyeletuk “Sakjane nang Bromo iku gak soro lho. Tekan homestay iso nyewa hardtop opo ojek, arep nang puncak yo iso numpak jaran, lek kademen yo ono warung kopi nang nduwur. Masalahe cuma siji, kudu nggowo duit akeh !”. Haha, bener yus!
Pukul 03.30 kami berangkat dari homestay. Setelah kira-kira 20 menit berjalan, akhirnya kami sampai di lautan pasir. Berbekal senter seadanya, kami berlima mulai menyusuri lautan pasir mengikuti pathok-pathok pembatas kawasan Gunung Bromo, karena itulah acuan kami supaya tidak kesasar. Bagi pejalan seperti kami, memakai masker hukumnya wajib saat melintasi kawasan ini. Kabut yang begitu tebal ditambah debu dari lalu-lalang hardtop yang seperti arak-arakan pejabat itu, akan sangat mengganggu pernafasan. Selain itu, kombinasi kabut dan debu tadi akan secara otomatis membuat jarak pandang semakin terbatas.
Setelah hampir 1,5 jam berjalan, akhirnya sampai juga di starting point pendakian ke puncak Bromo. Disitu sudah ramai orang yang sedang bersiap-siap mau muncak. Banyak yang menawarkan ojek kuda, tapi kami tetap setia dengan prinsip 'jalan kaki' kami, hehe. Ojek kuda disini rupanya sudah diorganisir dengan baik. Jadi setiap pemilik diberi identitas berupa nomor urut, mereka tidak perlu berebut mencari pelanggan. Mereka tinggal menunggu giliran dipanggil sesuai nomor urutnya.
Dalam perjalanan menuju kawah Bromo, saya sempat melihat seorang ibu berjalan dengan membawa serta anaknya yang masih bayi. Tidak hanya itu, saya juga melihat seorang nenek yang mengenakan sewek (kain jarik) sedang dituntun oleh anaknya menapaki jalan pasir menuju kawah Bromo. Saat ditawari naik kuda, si nenek malah menolak dan dengan semangat menjawab, "Wong mbahe sik kuat kok, le". Wahuuu! Keep rock 'n roll, mbah!
Kabut saat itu masih tetap tebal. Masker sarung yang saya pakai sejak di lautan pasir ternyata sudah tidak mempan lagi. Alhasil, hidung saya mulai bereaksi, bersin-bersin dengan ekstrim. Sudah hampir 2 pack tissu ukuran sedang saya habiskan sepanjang perjalanan, tapi si ingus belum juga mampet. Bahkan saking jengkelnya, saya biarkan saja dia netes-netes di pasir. Untung saja keadaan sekitar masih berkabut jadi kelakuan tidak berperi kesopanan itu tidak sempat membuat heboh pengunjung lain.
Lain halnya dengan salah satu sepupu saya, sebut saja AK-nama disamarkan, memang benar hidungnya baik-baik saja tapi tidak dengan perutnya. Sejak di starting point sebenarnya dia sudah mengeluh sakit perut, ingin buang 'perbekalan' katanya. Namun, karena toilet masih tutup maka kami tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dalam perjalanan pulang menuju starting point, rupanya hasrat ingin buang 'perbekalan' itu sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dengan hanya berbekal tissu, tanpa basa-basi dia langsung cari semak-semak, memenuhi hasratnya itu. "Krrskkk..krrskkk..", sepuluh menit dia baru muncul lagi. Sebenarnya hasrat buang 'perbekalan' sepupu saya di Bromo tidak hanya kali itu saja, tapi tidak usahlah saya ceritakan semua, cukup satu itu saja, hehe.Inilah salah satu berkah jalan kaki, misalkan saja kita naik kuda lalu kebelet seperti itu, masak si bapak dan kudanya disuruh nunggu kita?
Ternyata dinginnya kabut Bromo juga dirasakan pengunjung lain. Buktinya, toilet sampai antri seperti antri minyak subsidi, terutama toilet cewek. Saya yang dari tadi juga kebelet buang air kecil sedikit lega karena dari kejauhan, area toilet cowok tampak lengang. Begitu saya mendekat, jeng!jeng! Ternyata disana sudah ada beberapa orang cewek yang didominasi kaum ibu sedang antri. “Nggak salah masuk toilet toh bu?”, tanya mas-mas di pinggir saya. “Toilet cewek antri panjaaang mas, sudah kebelet ini”, jawab mereka kompak. Jiaahhhh…!!! Pantas saja negara ini nggak maju-maju, lha sebagian warganya suka menyabotase teritori pribadi orang lain.
Dan akhirnya sekitar pukul 8 pagi, kabut sudah hilang. Pemandangan bukit-bukit yang indah disekitar Gunung Bromo sepenuhnya terlihat. Hardtop-hardtop yang membawa para pengunjung juga tampak rapi berwarna-warni. Sebelum kembali ke homestay, kami berlima sempat minum kopi di warung sekitaran toilet. Disela-sela kami minum kopi, si Yusi, sepupu saya, nyeletuk “Sakjane nang Bromo iku gak soro lho. Tekan homestay iso nyewa hardtop opo ojek, arep nang puncak yo iso numpak jaran, lek kademen yo ono warung kopi nang nduwur. Masalahe cuma siji, kudu nggowo duit akeh !”. Haha, bener yus!
Kamis, 01 Juli 2010
Jalan-jalan meransel ke Pulau Sapudi
Liburan panjang datang lagi, saatnya jalan-jalan. Kali ini jalan-jalan saya agak berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Biasanya untuk menuju ke tempat tujuan saya menggunakan mobil, entah mobil rental atau punya teman, tapi kali ini saya dan teman-teman naik motor. Kalau biasanya nginep di penginapan, kali ini numpang rumah orang, yang seperti ini benar-benar pertama buat saya.
Yang terasa berbeda lagi adalah kali ini jalan-jalan saya bersama 3 orang yang sudah pernah mengunjungi beberapa tempat bagus di Indonesia, ada Ayos yang sudah pernah ke Belitung dan Pulau Komodo, Nuran yang sudah pernah ke Derawan dan juga ke Pulau Komodo bersama Ayos serta Putri yang sudah pernah menjejakkan kaki di Karimun Jawa.Ya saya merasa beruntung saja bisa jalan-jalan bareng mereka, hehe.
Tidak hanya itu, karena mereka semua suka menulis maka setelah jalan-jalan pasti akan mereka ceritakan dalam bentuk tulisan, tidak terkecuali traveling kali ini. Jadi sejak sebelum berangkat memang sudah ada rencana akan menuliskannya dalam bentuk e-book.
Destinasi kami adalah pulau-pulau kecil disebelah timur pulau Madura, tapi karena ombak yang tidak memungkinkan untuk kami menyeberang ke pulau-pulau kecil itu jadilah kami hanya meng-explore satu pulau saja yaitu pulau Sapudi. Semua cerita perjalanan ini kami rangkum dalam sebuah e-book sebanyak 30 halaman yang bisa dibaca secara online di scribd atau bisa di unduh secara gratis lewat ziddu.
Meskipun saya hanya nyumbang tulisan sedikit di e-book ini tapi ada kebanggaan tersendiri bagi saya bisa nulis bareng orang-orang hebat seperti mereka, hehehe. Selamat membaca, happy traveling!:)
Yang terasa berbeda lagi adalah kali ini jalan-jalan saya bersama 3 orang yang sudah pernah mengunjungi beberapa tempat bagus di Indonesia, ada Ayos yang sudah pernah ke Belitung dan Pulau Komodo, Nuran yang sudah pernah ke Derawan dan juga ke Pulau Komodo bersama Ayos serta Putri yang sudah pernah menjejakkan kaki di Karimun Jawa.Ya saya merasa beruntung saja bisa jalan-jalan bareng mereka, hehe.
Tidak hanya itu, karena mereka semua suka menulis maka setelah jalan-jalan pasti akan mereka ceritakan dalam bentuk tulisan, tidak terkecuali traveling kali ini. Jadi sejak sebelum berangkat memang sudah ada rencana akan menuliskannya dalam bentuk e-book.
Destinasi kami adalah pulau-pulau kecil disebelah timur pulau Madura, tapi karena ombak yang tidak memungkinkan untuk kami menyeberang ke pulau-pulau kecil itu jadilah kami hanya meng-explore satu pulau saja yaitu pulau Sapudi. Semua cerita perjalanan ini kami rangkum dalam sebuah e-book sebanyak 30 halaman yang bisa dibaca secara online di scribd atau bisa di unduh secara gratis lewat ziddu.
Meskipun saya hanya nyumbang tulisan sedikit di e-book ini tapi ada kebanggaan tersendiri bagi saya bisa nulis bareng orang-orang hebat seperti mereka, hehehe. Selamat membaca, happy traveling!:)
Senin, 22 Maret 2010
The Astonishing Waterfall : Madakaripura

Fajar 'Ndud' Dwinugroho adalah seorang traveler, hiker, dan juga seorang sportholic khususnya futsal dan badminton. Penyuka tetralogi Laskar Pelangi ini juga merupakan seorang penikmat tembang-tembang Jawa.
Ketika membaca cerita tentang "Treading On Penanjakan" (postingan bulan Nopember) pada blog ini, pada bagian akhir tertulis bahwa cerita tentang Madakaripura akan dituliskan selanjutnya oleh teman si Noe. Setelah membaca postingan tersebut, saya langsung kaget dan merasa berdosa. Karena teman si Noe adalah saya, hehe
Ketika kita melewati jalur utama Proling (Probolinggo.red) - Pasuruan, tepatnya di sekitar daerah Tongas, maka akan ada papan penunjuk arah menuju ke Gunung Bromo. Jalan ini memang salah satu jalur alternatif menuju Bromo. Kira-kira sekitar 5km setelah kita ikuti jalan ini, kita akan sampai pada suatu daerah yang bernama Lumbang. Di daerah ini kita akan ketemu pertigaan yang mana kalo terus menuju Bromo sedangkan kalo belok kanan akan menuju Air Terjun Pengantin. Loh, kok Air Terjun Pengantin?Kayak di film saja,hehe yang benar Air Terjun Madakaripura. Tepat di pertigaan ini juga terdapat sebuah Puskesmas Lumbang jadi kalau susah nyari pertigaannya ya tanya saja lokasi Puskesmas Lumbang,pasti warga disitu banyak yang tahu.
Dari pertigaan tadi, terus saja kita ikuti petunjuk arah yang setia membimbing kita menuju air terjun ini. Kurang lebih 5km perjalanan dari pertigaan Lumbang tadi untuk menuju pintu gerbang area air terjun ini. Tarif resmi yang dikenakan untuk masuk adalah Rp 2500 / kepala. Setelah memarkir mobil, banyak orang yang mendekati kami, layaknya para pekerja infotainment berebut berita dari sekelompok artis papan atas.Hehehe. Lah, ternyata mereka berebut menawarkan sebagai guide yang akan menuntun kita menuju "surga alam dunia". Kami memutuskan untuk bernegosiasi dengan salah seorang guide yang ada, karena kami masih blank dengan kondisi alam di Madakaripura ini, juga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah terjadi tawar menawar yang alot, kita sepakat dengan harga Rp 30ribu, dari harga yang ditawarkan, yakni Rp 50ribu.
Perjalanan kaki (treking) pun kita mulai dengan seorang guide sebagai pimpinan dan penunjuk arah. Pada permulaan jalan, kami disambut oleh patung Mahapatih Gajah Mada yang sedang bersila dengan tangan "sedakep". Memang air terjun Madakaripura ini merupakan salah satu tempat semedi Patih Gajah Mada (seorang Mahapatih Kerajaan Majapahit), yang merupakan pencetus "amukti palapa" dan juga merupakan sosok yang sangat berperan dalam kejayaan Kerajaan Majapahit di masa lalu, bersama Sang Raja Hayam Wuruk. Konon menurut sember yang ada, setelah melaksanakan amukti palapa (kalo ga salah isinya : "Saya tidak akan pernah menikmati kenikmatan duniawi sebelum seluruh Nusantara bersatu dibawah Panji Majapahit), Mahapatih Gadjah Mada mengasingkan dirinya di air terjun ini. Ada sumber lain yang mengatakan kalo Gajah Mada mengasingkan dirinya karena beliau dihujat, dicaci dan disalahkan dalam "Tragedi Bubat". Untuk lebih jelas tentang sejarah Mahapatih Gajah Mada ini, dapat mengunjungi museum di Trowulan, atau hubungi ahli sejarah Majapahit di kota Anda:)
Kembali ke perjalanan. Sebenarnya Pemerintah Daerah Proling (baca: Probolinggo) telah membangun akses bagi pejalan kaki untuk mencapai komplek air terjun. Tapi, pedestrian yang dibuat sudah banyak yang hancur dan ga nyambung lagi, sehingga kita harus "turun" ke sungai. Nah melintasi sungai dan loncat dari batu ke batu inilah yang membuat perjalanan ini tidak membosankan. Perjalan ini menempuh jarak sekitar 1,5km yang bisa dilalui sekitar 15-20 menit. Menjelang komplek air terjun, ada warung yang selain menjajakan makanan dan minuman ringan, juga menawarkan jasa payung dan tas kresek. Kenapa harus ada payung dan tas kresek? yap, untuk mencapai air terjun utama, kita harus berbasah ria menembus beberapa air terjun kecil.
Wow... tak ada kata yang terucap selain Subhanalloh, Maha Besar Alloh dengan segala ciptaan-Nya yang indah dan menakjubkan. Saya sempat sedikit terperangah dengan apa yang saya lihat. Air terjun itu membentuk seperti tirai dan kita harus berjalan di bawahnya. Sang guide berseru,"Hati-hati kalo lewat batu di bawah tirai air terjun, disana licin dan masih banyak lintah!". Beberapa teman kami yang juga sibuk melindungi perlengkapan gadget nya ada yang terpeleset, tapi untung saja ga jatuh. Setelah melewati rintangan tirai air terjun, kita harus mendaki dinding batu yang terjal dan licin. Agak sulit memang untuk melewatinya, tapi setelah berusaha dengen segenap jiwa raga (halah lebay), kami semua berhasil menaklukkan dinding batu tersebut dan.........
ini dia air terjun utamanya (kalau musim kemarau), image from google
dan ini waktu awal musim hujan, airnya ga jernih lagi
Ketika perjalanan pulang menuju parkiran, saat melewati tirai air, ada salah satu dari kami yang terpeleset. Tapi untung saja dia berhasil pegangan pada batu, sehingga dia tidak terjungkal. Tapi di jempol tangan kanannya ada sebuah benda hitam kecil. Setelah dilakukan pengamatan lebih dalam, benda tersebut adalan lintah dalam ukuran kecil. Sontak salah satu dari kami itu langsung panik. Untung saja lintahnya dalam ukuran mini dan belum lama nyedot darah, jadi mudah saja melepaskannya.
Sesampainya di parkiran kami sedikit terkejut karena mobil kami koq jadi kinclong. usut punya usut, ternyata ada pungli dengan modus operandi mencucikan kendaraan bermotor kita and we must pay it! Ya iyalah masak udah dikinclongin ga mau bayar:)
Madakaripura, ciptaan Alloh yang sungguh istimewa, yang membuat kami merasa hina karena sering melupakan nikmatNya...
Madakaripura, Air terjun terindah yang pernah saya lihat, dengan berbagai pesonanya...
Madakaripura, saksi ketabahan dan keteguhan sang Mahapatih yang terbuang...
Madakaripura, penghilang penat, stress dan kesuntukan setelah menjalani kehidupan di kota besar...
Madakaripura, madakaripura, madakaripura...
tips jika kita ke Madakaripura:
1. Pandai-pandailah menawar harga (jasa guide, jasa pencucian kendaraan, jasa sewa payung, dll)
2. Selamatkan barang-barang anda yang akan rusak jika terkena air misalnya kamera, hp dll (siapkan diri untuk berbasah ria)
3. Waspadai jalanan yang licin dan lintah yang umumnya banyak terdapat di tempat lembab dan basah.
4. Hindari bepergian ke Madakaripura saat hujan, berbahaya!
Welcome and enjoy it, the ASTONISHING WATERFALL MADAKARIPURA !!
Langganan:
Postingan (Atom)


























