Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2012

Berjalan Menembus Kabut Lautan Pasir Gunung Bromo


Lautan Pasir Gunung Bromo yang dikelilingi bukit dan pegunungan ibarat sebuah cawan raksasa kosong tak berisi pada siang hari. Kondisi ini akan sangat berbeda jika sudah menjelang malam hingga pagi hari. Cawan raksasa yang tadinya kosong ini akan terisi penuh dengan kabut. Sudah bisa dibayangkan betapa dinginnya udara di dalam sana. Namun inilah tantangannya, saya dan empat orang saudara saya waktu itu sepakat untuk melintasi lautan pasir Bromo ini dengan berjalan kaki.

Pukul 03.30 kami berangkat dari homestay. Berbekal senter seadanya, kami berlima mulai menyusuri lautan pasir mengikuti pathok-pathok pembatas kawasan Gunung Bromo, karena itulah petunjuk kami supaya tidak kesasar.


Dan ternyata melintasi lautan pasir Bromo ini tidak semudah yang kami bayangkan. Kami harus berhadapan langsung dengan kabut tebal yang saat itu mulai turun memenuhi lautan pasir ini. Selain itu, debu dari lalu lalang hardtop yang seperti arak-arakan pejabat itu juga sangat mengganggu pernafasan. Jadi, bagi pejalan seperti kami, memakai masker hukumnya wajib saat melintasi kawasan ini. Tak hanya itu, kombinasi kabut dan debu tadi ternyata juga sukses membuat jarak pandang semakin terbatas. Dan sekali lagi, memang inilah tantangannya.

Setelah hampir 1,5 jam berjalan, akhirnya kami sampai juga di starting point pendakian ke kawah Gunung Bromo. Disitu sudah ramai orang yang sedang bersiap-siap. Banyak yang menawarkan ojek kuda, tapi kami tetap memegang teguh keinginan kami untuk berjalan kaki hingga bibir kawah Gunung Bromo. Ojek kuda disini rupanya telah terorganisir dengan baik. Jadi setiap pemilik diberi identitas berupa nomor urut, mereka tidak perlu berebut mencari pelanggan. Mereka tinggal menunggu giliran dipanggil sesuai nomor urutnya.


Sesampainya di bibir kawah, pemandangan yang luar biasa indah terhampar di hadapan kami. Sunrise yang menawan di atas kabut yang seperti gumpalan kapas raksasa itu sungguh pemandangan yang menakjubkan. Benar-benar pagi yang sempurna. Puas menikmati pemandangan dari bibir kawah, kamipun melewati lautan pasir lagi untuk kembali ke homestay. Saat perjalanan pulang ini, kabut berangsur-angsur mulai hilang. Dan akhirnya sekitar pukul 8 kabut sudah benar-benar hilang dari lautan pasir Bromo. Deretan bukit-bukit hijau disekitar Gunung Bromo sepenuhnya terlihat. Hardtop-hardtop yang membawa para pelancong juga tampak rapi berwarna-warni. Semoga sampai kapanpun Bromo akan tetap menawan seperti ini.


nb : Sebenarnya saya sudah pernah posting tulisan tentang perjalanan menembus kabut Bromo ini, tapi karena menurut salah seorang teman, postingan saya itu sedikit disgusting jadi saya edit lagi jadi seperti ini. Tapi kalau masih ingin baca yang disgusting tadi bisa dibaca di sini.

Selasa, 31 Mei 2011

Light From The East


Mau dimanapun menikmatinya, yang namanya sunrise selalu dapat memanjakan mata saya. Dinikmati dari puncak gunung, dari atas bukit, pesisir pantai ataupun hanya dari balkon kos-kosan, semuanya sama, selalu dapat membuat saya bersyukur bisa hidup di negeri ini. I love Indonesia!

******

Beberapa waktu yang lalu, akhirnya saya bisa menikmati sunrise di kawah Gunung Bromo. Waktu itu, sebelum mencapai kawah, saya bersama empat orang saudara saya masih harus berhadapan langsung dengan tebalnya kabut lautan pasir Bromo yang dingin. Belum lagi debu dari lalu lalang hardtop yang melintas lautan pasir ini, cukup mengganggu pernafasan bagi pejalan kaki seperti kami. Namun "perjuangan" itu tidak sia-sia, karena sesampainya di puncak, kami masih sempat melihat keindahan sunrise-nya.


******

Menikmati sunrise dari atas bukit pernah saya lakukan di Bukit Penanjakan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Bukit Sikunir di Dataran Tinggi Dieng. Keindahan sunrise di Bukit Penanjakan memang selalu menjadi daya tarik bagi pelancong domestik maupun mancanegara. Memang, saat Bromo meletus beberapa waktu lalu, kawasan ini sempat ditutup karena terkena hujan abu vulkanik. Namun hal itu tidak menyurutkan niat saya bersama beberapa teman untuk pergi kesana. Sayangnya saat itu cuaca sedikit mendung.


Untuk melihat sunrise di Bukit Sikunir nampaknya tidak semudah di Bukit Penanjakan. Kalau di Penanjakan kita bisa dengan mudah menyewa jasa hardtop untuk sampai lokasi, di Sikunir untuk dapat menikmati sunrise kita masih harus sedikit hiking untuk sampai ke view point. Namun tak apalah toh sampai di view point semua akan terbayar dengan keindahan sunrise-nya. Nampak di kejauhan dari Bukit Sikunir ini kita bisa melihat siluet gunung Sindoro - Sumbing, Merbabu dan Merapi.

photo by Dwi Putri

******

Dari dulu saya ingin sekali melihat sunrise di pantai. Namun baru kesampaian saat saya mengunjungi Pantai Bama yang berada di dalam komplek Taman Nasional Baluran - Situbondo. Lingkungan sekitar pantai yang sepi, segarnya udara pagi, ditemani suara ombak-ombak kecil, menjadikan pantai ini sebagai tempat ideal untuk menikmati sunrise.


Berbeda dengan sunrise di Pantai Bama, sunrise di Pantai Klayar - Pacitan "lebih lambat" datangnya. Topografi pantai selatan yang berupa pegunungan membuat sinar matahari jadi terhalang sehingga sunrise disini terkesan agak siang datangnya. Foto ini saya ambil sekitar pukul 6 pagi.


******

Untuk menikmati sunrise, yang wajib dilakukan memang harus bangun pagi, tapi ternyata bangun pagi saja belumlah cukup, cuaca juga sangat berpengaruh. Pernah saya 3 kali berburu sunrise di Pantai Ria Kenjeran tapi 3 kali itu pula cuaca mendung. Namun terkadang tanpa diburu pun, rol sunrise seperti ini malah tiba-tiba muncul. Lucky me:)


******

Selasa, 21 September 2010

Berjalan Menembus Kabut Bromo

Nama Gunung Bromo memang sudah tersohor hingga mancanegara, tak heran jika banyak pelancong ingin mengunjunginya. Banyak alternatif akomodasi untuk menuju lokasi gunung nan eksotis ini, hardtop, ojek, ataupun kuda selalu siap sedia mengantarkan kita. Namun dengan dalih menghemat pengeluaran, saya, adik dan 3 orang sepupu saya kali ini memutuskan jalan kaki saja.

Pukul 03.30 kami berangkat dari homestay. Setelah kira-kira 20 menit berjalan, akhirnya kami sampai di lautan pasir. Berbekal senter seadanya, kami berlima mulai menyusuri lautan pasir mengikuti pathok-pathok pembatas kawasan Gunung Bromo, karena itulah acuan kami supaya tidak kesasar. Bagi pejalan seperti kami, memakai masker hukumnya wajib saat melintasi kawasan ini. Kabut yang begitu tebal ditambah debu dari lalu-lalang hardtop yang seperti arak-arakan pejabat itu, akan sangat mengganggu pernafasan. Selain itu, kombinasi kabut dan debu tadi akan secara otomatis membuat jarak pandang semakin terbatas.

Setelah hampir 1,5 jam berjalan, akhirnya sampai juga di starting point pendakian ke puncak Bromo. Disitu sudah ramai orang yang sedang bersiap-siap mau muncak. Banyak yang menawarkan ojek kuda, tapi kami tetap setia dengan prinsip 'jalan kaki' kami, hehe. Ojek kuda disini rupanya sudah diorganisir dengan baik. Jadi setiap pemilik diberi identitas berupa nomor urut, mereka tidak perlu berebut mencari pelanggan. Mereka tinggal menunggu giliran dipanggil sesuai nomor urutnya.

Dalam perjalanan menuju kawah Bromo, saya sempat melihat seorang ibu berjalan dengan membawa serta anaknya yang masih bayi. Tidak hanya itu, saya juga melihat seorang nenek yang mengenakan sewek (kain jarik) sedang dituntun oleh anaknya menapaki jalan pasir menuju kawah Bromo. Saat ditawari naik kuda, si nenek malah menolak dan dengan semangat menjawab, "Wong mbahe sik kuat kok, le". Wahuuu! Keep rock 'n roll, mbah!

Kabut saat itu masih tetap tebal. Masker sarung yang saya pakai sejak di lautan pasir ternyata sudah tidak mempan lagi. Alhasil, hidung saya mulai bereaksi, bersin-bersin dengan ekstrim. Sudah hampir 2 pack tissu ukuran sedang saya habiskan sepanjang perjalanan, tapi si ingus belum juga mampet. Bahkan saking jengkelnya, saya biarkan saja dia netes-netes di pasir. Untung saja keadaan sekitar masih berkabut jadi kelakuan tidak berperi kesopanan itu tidak sempat membuat heboh pengunjung lain.

Lain halnya dengan salah satu sepupu saya, sebut saja AK-nama disamarkan, memang benar hidungnya baik-baik saja tapi tidak dengan perutnya. Sejak di starting point sebenarnya dia sudah mengeluh sakit perut, ingin buang 'perbekalan' katanya. Namun, karena toilet masih tutup maka kami tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dalam perjalanan pulang menuju starting point, rupanya hasrat ingin buang 'perbekalan' itu sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dengan hanya berbekal tissu, tanpa basa-basi dia langsung cari semak-semak, memenuhi hasratnya itu. "Krrskkk..krrskkk..", sepuluh menit dia baru muncul lagi. Sebenarnya hasrat buang 'perbekalan' sepupu saya di Bromo tidak hanya kali itu saja, tapi tidak usahlah saya ceritakan semua, cukup satu itu saja, hehe.Inilah salah satu berkah jalan kaki, misalkan saja kita naik kuda lalu kebelet seperti itu, masak si bapak dan kudanya disuruh nunggu kita?

Ternyata dinginnya kabut Bromo juga dirasakan pengunjung lain. Buktinya, toilet sampai antri seperti antri minyak subsidi, terutama toilet cewek. Saya yang dari tadi juga kebelet buang air kecil sedikit lega karena dari kejauhan, area toilet cowok tampak lengang. Begitu saya mendekat, jeng!jeng! Ternyata disana sudah ada beberapa orang cewek yang didominasi kaum ibu sedang antri. “Nggak salah masuk toilet toh bu?”, tanya mas-mas di pinggir saya. “Toilet cewek antri panjaaang mas, sudah kebelet ini”, jawab mereka kompak. Jiaahhhh…!!! Pantas saja negara ini nggak maju-maju, lha sebagian warganya suka menyabotase teritori pribadi orang lain.

Dan akhirnya sekitar pukul 8 pagi, kabut sudah hilang. Pemandangan bukit-bukit yang indah disekitar Gunung Bromo sepenuhnya terlihat. Hardtop-hardtop yang membawa para pengunjung juga tampak rapi berwarna-warni. Sebelum kembali ke homestay, kami berlima sempat minum kopi di warung sekitaran toilet. Disela-sela kami minum kopi, si Yusi, sepupu saya, nyeletuk “Sakjane nang Bromo iku gak soro lho. Tekan homestay iso nyewa hardtop opo ojek, arep nang puncak yo iso numpak jaran, lek kademen yo ono warung kopi nang nduwur. Masalahe cuma siji, kudu nggowo duit akeh !”. Haha, bener yus!

Senin, 22 Maret 2010

Small Thing From Dieng










Kontributor :
Dwi Putri Ratnasari
Riski Setiadi
----------------------------------------------------------------------------------

Semua orang pasti pernah tahu kepik, lalat, laba-laba dan binatang kecil lain di sekitarnya tapi jarang sekali yang memperhatikan, ya termasuk juga saya, hehe. Ternyata objek-objek kecil seperti ini kalau diperhatikan lebih dekat jadi terlihat menarik.

Awalnya saat jalan-jalan ke dataran tinggi Dieng beberapa waktu lalu, saya melihat teman saya si Putri sedang asyik motret sesuatu di atas ilalang di pinggiran Telaga Warna. Putri adalah salah satu dari delapan travelfreak yang ikut dalam jalan-jalan mbambung kali ini (maaf yo put kalau kurang nyaman dengan kata 'freak'nya,hahaha). Waktu itu saya kira dia ngambil gambar landscape telaganya, eh ternyata bukan, lalat yang nangkring di atas ilalang ternyata yang jadi objek sasarannya. Hasilnya bagus Put lak jareku,hehehe.

  
  
Karena iri lihat hasilnya si Putri yang sip, saya jadi ga tahan untuk motret juga dan ini dia hasilnya,jreng! of course  kameranya pinjaman dari Putri (suwun Put:p)


Waktu lihat-lihat hasil foto dari kamera Setiadi ternyata dia juga sempat motret objek-objek kecil, ini dia salah satu hasilnya. Setiadi juga salah satu dari delapan travelfreak yang ikut dalam jalan-jalan mbambung kali ini.

 
Ini beberapa foto juga hasil jepretan Putri





Jumat, 20 November 2009

Treading on Penanjakan

Tempat yang paling ideal untuk menikmati sunrise adalah diatas gunung, tapi tidak mudah untuk mendaki gunung dan mencapai puncaknya. Namun puncak dengan tinggi lebih dari 2500 mdpl ini dapat kita capai dengan mudah karena sudah banyak tersedia kendaraan sewa 4WD yang siap mengantarkan kita sampai puncak.

Penanjakan merupakan salah satu view point terbaik untuk melihat sunrise. Keelokannya sudah dikenal banyak pelancong asing maupun domestik. Maka jangan heran jika melihat banyak turis dari berbagai negara yang berkumpul disana.

Perjalanan menuju Penanjakan kami tempuh sekitar 2,5 jam dari Surabaya. Tentu saja waktu tempuh itu bisa kami capai saat malam hari karena jalanan masih sepi.

Dari Surabaya, mengarahlah ke selatan sampai pertigaan Purwosari, ambil yang ke arah kiri menuju daerah Tutur dan ikuti papan petunjuk ke Penanjakan. Ikuti terus hingga masuk daerah Tosari kemudian jalan akan mulai berkelok-kelok dan sempit tapi dengan aspal yang mulus. Semakin ke atas kita akan melewati pabrik susu di daerah Puspo, kemudian kita akan melewati hutan pinus, ikuti terus hingga sampai di pos penjagaan.

Kami berdelapan sampai di pos tepat jam 4 pagi. Saat keluar dari mobil, hawa dingin sudah menyambut kami. Saya yang dari tadi ngempet mau buang air kecil langsung ngacir ke kamar mandi. Brrr! dingin sekali airnya.

Tiket masuk Penanjakan relatif murah, karena kami bawa mobil sendiri jadi kami kena biaya parkir mobil, tapi tetap saja masih terjangkau, hehe. Tak berapa lama kemudian rombongan kendaraan 4WD juga sampai di pos, kebanyakan yang duduk manis didalamnya adalah para bule.

Setelah administrasi dan perijinan selesai, kami langsung tancap gas menuju puncak, karena sayang sekali jika sampai puncak, matahari sudah terbit. Saat sampai lokasi puncak, ternyata kami termasuk rombongan terakhir karena disana para bule dan pelancong domestik sudah PW (baca : posisi wuenak) dengan posisinya masing-masing. Menunggu sunrise dan mencari angel yang tepat untuk berfoto-foto ria.Crap!

Setelah mencari-cari akhirnya dapat juga tempat yang ciamik. Kalau dari posisi para pelancong-pelancong tadi, kita masih harus turun beberapa meter lagi. Tempatnya luas dan cukup datar, pas untuk nge-ground.

Subhanallah. Amazing bin awesome! Meskipun tidak mendapat "The Famous Sunrise" itu tapi didepan sudah terhampar pemandangan luar biasa. Pemandangan deretan 3 gunung plus lautan pasir memanjakan mata kami. Gunung Batok, Gunung Bromo, dan puncak tertinggi di pulau Jawa, Mahameru. Ditambah kabut tipis diantara gunung-gunung tadi yang perlahan tersingkap oleh angin, membuat saya tertegun beberapa detik. Perpaduan yang pas antara keindahan dan kemegahan.

Photo session-pun dimulai, hehe. Karena keasyikan, tanpa terasa matahari sudah mulai terasa panas. Akhirnya kami putuskan kembali ke atas. Sesampainya diatas, kami sedikit kaget, kemana orang-orang yang ramai tadi? Ternyata mereka sudah duluan turun ke Bromo. Sepi, jadi hanya tinggal kami dan seorang petugas kebersihan yang sedang menyapu saja yang masih ada disana.krik.krik.krik

Kami baru sadar ternyata medan yang kami lalui semalam cukup bikin ngeri, bagaimana tidak jalan yang kami lewati dengan sedikit ngebut semalam ternyata sampingnya jurang terjal mengerikan. Alhamduillah ternyata Allah SWT masih sayang dengan kami(:

Overall, Penanjakan memang ciamik soro (baca : bagus sekali). Likes this-lah pokoknya.Perjalanan kami tidak sampai sini saja karena tujuan kami selanjutnya adalah menuruni bukit menuju lautan pasir, melewati Gunung Bromo dan ke air terjun impian saya, Madakaripura. Tapi tidak saya ceritakan disini, insya Allah akan ditulis teman saya dilain waktu. Coming soon...

Special thanks to :
Hudan atas mobilnya dan Harys
yang nyetirin mobil kami, driver handal kamu boy!

Kamis, 04 Juni 2009

Kawah Ijen

Akhir pekan kemarin, yang juga merupakan akhir dari bulan Mei, aku bersama 12 orang temanku melakukan perjalan menuju Kawah Ijen. Kebanyakan dari kami ini adalah pengalaman pertama dan hanya beberapa dari kami yang sudah pernah. Sedikit review, Kawah Ijen merupakan salah satu gunung aktif di Jawa Timur dimana Kawah ini secara administratif terbagi dalam dua kabupaten yaitu Bondowoso dan Banyuwangi, Jawa Timur.

Kawah Ijen ini memiliki ketinggian sekitar 2.443 mdpl dan telah meletus beberapa kali yaitu pada tahun 1796, 1817, 1913 dan 1936. Akibat dari letusan-letusan itu, maka terbentuklah sebuah kawah yang lebar dengan pesona danau sulfur yang menakjubkan didalamnya. Kabarnya, karena luas dan kapasitas air belerang di dalamnya, Kawah Ijen disebut-sebut sebagai salah satu danau kawah terbesar di dunia. Wow! Kita sudah sepatutnya bangga karena Kawah Ijen ada di negeri kita tercinta ini.

Perjalanan ke Kawah Ijen aku tempuh dalam waktu 2 hari. Sabtu sore, berangkat menuju Jember sendirian, perjalanan aku tempuh menggunakan kereta kelas tiga alias kereta ekonomi Sritanjung, dengan alasan menghemat biaya perjalanan dan juga karena aku ingin sampai di Jember tidak terlalu larut malam. Dalam perjalanan aku bertemu seorang nenek bersama 2 orang putrinya, beliau yang seorang pedagang buah banyak bercerita tentang kehidupannya. Dalam ceritanya itu beliau juga berpesan, mumpung masih muda kalau ingin sukses coba laksanakan puasa senin kamis dan Tahajjud. Maaf ya nek bukannya aku tidak mau, niat sih ada tapi untuk melaksanakannya secara rutin aku masih belum bisa,hehe.

Pukul 20.00 aku sampai di Jember, setelah menunggu beberapa saat, datanglah temanku Martha menjemputku. Malam itu aku numpang tidur di rumahnya. Setelah mandi, makan malam dan sholat akupun tidur, badan terasa capek sekali karena dalam perjalanan Surabaya - Jember aku tidak mendapat tempat duduk jadi otomatis aku harus berdiri, maklum saja hari itu adalah weekend jadi jumlah penumpang bertambah.

Hari kedua, perjalanan dimulai dari rumah Martha pukul 04.30. Dengan mengendarai mobil Kijangnya Martha, kami berdua menuju rumah Agitha lalu ke rumah Setiadi dimana kami juga sudah janjian dengan Fajar ketemuan disitu. Oke, personel mobil yang kami tumpangi sudah komplit, tinggal menunggu mobil teman kami yang satunya. Setelah menunggu hampir sekitar setengah jam, mobil yang ditumpangi, Dipta, Andreas, Ryan, Ari, Desi, Kiki, Putri dan Irsyad itu datang juga. Tanpa menunda waktu lagi kami pun langsung tancap gas menuju Kawah Ijen, kami tidak mau kesiangan sampai sana.

Ladang kubis

Hutan pinus

Perjalanan dari Jember menuju Kecamatan sempol, Bondowoso kami tempuh dalam waktu sekitar 2,5-3 jam melewati jalan aspal mulus. Namun ketika mulai memasuki daerah pegunungan, jalan sudah mulai rusak, saya sarankan kalau kesana jangan menggunakan mobil sejenis sedan karena lubang aspal cukup besar dan dalam. Sesampai di pos pemeriksaan pertama, kamipun beristirahat sejenak sambil mengisi bensin. Jangan dipikir ada pom bensin lho, mobil kami isi dengan bensin eceran, hehe.

Pemandangan di depan pos pemeriksaan I

Pintu masuk pos pemeriksaan II

Perjalanan dari pos pemeriksaan pertama ke pos Paltuding yang berjarak sekitar 15 km kami tempuh dalam waktu kira-kira 45 menit dimana sebelum sampai pos Paltuding kami juga harus melewati 2 pos pemeriksaan lagi. Pos Paltuding merupakan pos terakhir sebelum para pendaki melakukan pendakia. Dari pos pemeriksaan pertama sampai Paltuding, jalan yang kami lalui berupa aspal mulus. Mata kami dimanjakan dengan pemandangan alam pegunungan yang menakjubkan, hutan-hutan yang masih hijau, perkebunan kopi, lembah-lembah berkontur unik, aahhhh....indah sekali!

Parking area di pos Paltuding

Tak berapa lama kemudian sampailah kami di pos Paltuding. Pos ini memiliki area yang cukup luas, ada parking area, camping ground, kamar mandi umum, penginapan dan juga warung makanan, lengkap deh. Karena belum sempat sarapan, sebagian dari kami memutuskan untuk membeli semangkuk mie rebus. Setelah berkemas, kamipun membeli tiket masuk seharga Rp. 1.500,- per orang, dan setelah itu tidak lupa berdo'a untuk keselamatan perjalanan ini. Tepat jam 09.30 kami mulai pendakian, oke let's begin!

Bagi yang tidak biasa olah raga, hiking seperti ini merupakan kegiatan yang bikin ngos-ngosan, pun bagi saya yang sudah pernah hiking. Sempat ada juga beberapa dari kami yang muntah, tapi itu hanya awal-awal pendakian saja karena lama-lama tubuh akan menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Dalam perjalanan, kami banyak berpapasan dengan bule-bule Perancis yang sudah mulai turun. Mungkin mereka mengejar sunrise paginya jadi saat kami naik, bule-bule itu sudah pada turun.

Yang membuat semangat adalah, selain karena sudah membayangkan keindahan Kawah Ijen di atas sana juga karena kebanyakan dari bule-bule itu sudah uzur dan juga kami sempat melihat seorang bocah perempuan bersama keluarganya yang juga telah sampai dari atas, wah masak kalah dengan anak kecil dan kakek-nenek, begitu pikirku. Jadi tambah semangat jadinya.

Pos penimbangan belerang

Untuk sampai lokasi kawah, dari Paltuding dapat ditempuh sejauh 3 Hm melewati jalur penambang yang menurutku kondisinya cukup bagus apalagi bagi yang pertama melakukan pendakian. Track-nya tidak terlalu terjal, meskipun kadang terdapat tanjakan yang bikin ngos-ngosan. Sampai di pos penimbangan belerang, kami istirahat sejenak sambil foto-foto. Karena kabut cukup tebal, langit juga agak mendung dan takut sampai kawah kesiangan maka kami bersegera malanjutkan perjalanan.

Jalan menuju bibir kawah

Kabut dan asap belerang menyelimuti permukaan Kawah Ijen

Sampai di bibir kawah, ternyata kabut masih tebal sehingga pemandangan kawah tidak terlihat. Tapi setelah menunggu beberapa saat, Subhanalloh...!!! Kabut itu ibarat tirai yang kemudian dibuka oleh angin sehingga setelah itu yang terlihat adalah pemandangan yang sangat menakjubkan. Sebuah danau kawah yang besar dengan warna hijau tosca. Ombak-ombak kecil di permukaan danau yang terkena sinar matahari terlihat berkilauan, dinding-dinding kawah dengan kontur yang unik, Subhanalloh...!!! Tak ada kata lain selain mengucap syukur dan memuji kebesaran Sang Pencipta akan salah satu Mahakarya TerbesarNya ini.

Kawah Ijen

Setelah takjub beberapa saat, kamipun segera mengabadikan momen ini dengan kamera. Sempat terjadi perdebatan apakah turun ke dekat danau atau cukup sampai bibir kawah saja. Akhirnya setelah melakukan pertimbangan ada sebagian dari kami yang turun dan sebagian lagi tetap di bibir kawah. Awalnya akupun juga ikut turun tapi karena bau asap belerang yang sangat pekat maka aku putuskan untuk naik lagi sedangkan Andre, Martha, Setiadi, Dipta, Ari dn Ryan tetap turun.

Penambang belerang

Akupun sempat mengobrol dengan salah satu penambang dan menanyakan belerang yang dia angkut kira-kira beratnya berapa karena sepertinya sangat berat. Benar saja, ternyata yang dia angkut sekitar 60 kg! yang mana dengan berat segitu, upah yang dia dapat tidak sampai 40 rb. Hah?? beneran? dengan medan seperti itu? Tapi apa mau dikata, memang begitu kenyataannya.

Team

Setelah puas dibawah akhirnya teman-temanku yang kebawah tadi mulai naik, sebelum pulang kami sempatkan foto bersama dengan background Kawah Ijen, kapan lagi mumpung sempat kesini. Perjalanan turun memang lebih cepat, sampai Paltuding kira-kira hanya 45 menit tapi lutut terasa ngilu karena menahan berat badan masing-masing. Sampai Paltuding kira-kira pukul 15.00, karena perut lapar lagi jadi kamipun makan lagi, hehehe. Setelah berkemas kamipun bergegas pulang sambil mencari masjid karena di Paltuding tempat ibadahnya kurang terawat. Setelah sholat kami lanjutkan perjalanan menuju Jember, kira-kira pukul 20.00 kami sudah masuk Jember. Karena rumahku masih 30an km lg dari pusat kota jadi pukul 21.20 aku baru sampai rumahku. Capek jelas terasa, tapi menurutku semuanya sebanding dengan pengalaman yang aku dapat. Benar-benar tempat yang bagus. Semoga lain waktu bisa kesana lg. Sekarang prepare untuk tujuan selanjutnya, semoga terlaksana, amin.:)

nb : sedikit tips, kalau ada serangan asap belerang coba gunakan masker yang dibasahi air, bisa sedikit membantu mengurangi bau belerang yang kita hirup. Terima kasih untuk Martha dan keluarga yang memberi tumpangan aku untuk menginap.

Sabtu, 14 Maret 2009

Journey To Welirang

Awalnya tidak pernah sedikitpun kata "naik gunung" mampir dalam pikiranku. Alasannya simpel saja, dari dulu aku tidak pernah berani mencoba hal baru, apa lagi se extrem naik gunung yang butuh persiapan fisik dan mental. Jadi saat ada teman kuliah ngajak hiking, berpikir cepat mecari alasan untuk menolak adalah hal pertama yang aku lakukan:). Tapi setelah sering didoktrin dengan cerita-cerita dan foto-foto sama seorang teman yang hobi hiking, akhirnya timbul keberanianku untuk mencoba, sekalian ngetes seberapa siap fisik dan mentalku menghadapi hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.Kebetulan gunung pertama yang aku tapaki adalah gunung Welirang. Oke perjalanan dimulai.

Gunung welirang, 3156 mdpl, satu komplek dengan gunung Arjuno. Dari Surabaya aku tempuh menggunakan motor bersama 3 teman. Kendaraan ini kami pilih karena kami anggap paling efisien, baik dari segi biaya ataupun waktu. Dari Surabaya kami berangkat menuju Tretes setelah sholat ashar, sampai di pos ijin pendakian menjelang magrib, kami transit sebentar untuk mengurus perijinan dan makan malam di warung dekat pos tersebut sambil mengobrol. Dalam hati sebenarnya ada perasaan takut karena ini adalah pengalaman pertamaku. Setelah mengecek perlengkapan, kami mulai meninggalkan pos ijin pendakian menuju pintu masuk jalur pendakian Welirang Arjuno. Didepan pintu masuk kami berdiri melingkar sambil berangkulan, berdoa meminta keselamatan dari Alloh SWT. Senter kami nyalakan dan kamipun mulai berjalan, inilah langkah pertamaku menapaki jalan menuju puncak pertamaku. Menaklukkan ketakutanku selama ini. Selama perjalanan tak henti-hentinya aku memohon keselamatan dari Yang Maha Kuasa, kira-kira satu jam perjalanan hujan mulai mengguyur, sayangnya tidak ada seorangpun dari kami yang membawa jas hujan. Akhirnya kami menggunakan atap tenda untuk berteduh. Setelah hujan agak reda, kami mulai berjalan lagi menuju pos pertama. Tidak tahu pastinya berapa jam kami berjalan yang jelas kakiku sudah agak ngilu, tapi dalam hati aku terus menyemangati diriku sendiri untuk terus berjalan paling tidak sampai pos pertama. Karena dari kami berempat fisikkulah yang paling lemah, sebisa mungkin aku tidak mau merepotkan mereka. Tiba-tiba salah satu teman berteriak, "Nu' deloken mburimu!".("Nu', lihat belakangmu!"). Subhanallah...bisa aku lihat lampu-lampu jalan berkelap-kelip, indah sekali. Kamipun berjalan kembali, dan tak lama kemudian kami sampai di pos pertama, para pendaki biasanya menyebut pos pertama dengan sebutan "Kop-kopan", aku tidak tahu artinya apa. Kamipun langsung mendirikan tenda yang lokasinya dekat dengan sungai supaya mudah mencari air. Kami berbagi tugas, dua orang mendirikan tenda dan sisanya menyiapkan makan malam. Menu makan favorit orang naik gunung adalah mie instan, karena dianggap efisien. Setelah makan kamipun tidur, melepas penat sejenak untuk mempersiapkan setengah perjalanan lagi menuju puncak basok pagi.

Pagi datang, saatnya melanjutkan perjalanan. Setelah mepersiapkan semuanya, mulai memasak, membereskan tenda sampai sarapan, kami melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya,orang-orang menyebutnya "Pondokan". Satu jam dua jam kami berjalan tapi belum juga sampai. Dalam perjalanan kami menjumpai banyak pendaki dengan tujuan sama, puncak Welirang. Tapi ada juga yang menuju Arjuno. Jalur menuju Welirang dan Arjuno kalau ditempuh dari Tretes memang sama, tetapi hanya sampai pondokan setelah itu jalurnya berbeda. Ah akhirnya sampai juga di pos penambang, tapi hari sudah sore. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda disitu dan melanjutkan menuju puncak keesokan harinya.
Pos Pondokan adalah kompleks perumahan para penanambang belerang, tapi jangan dikira kompleks perumahannya seperti dikota lho karena berbeda sekali. Para penambang disini mendirikan pondok dari kayu dengan atap asbes hanya untuk melepas penat sejenak setelah mengangkut belerang seharian dari puncak Welirang. Sungguh berat pekerjaan ini bagiku. Setelah mendirikan tenda, memasak dan makan malam, kamipun istirahat. Menyiapkan fisik dan mental menuju puncak, karena jalur yang kami tempuh akan semakin berat.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Welirang. Benar saja, jalan yang kami lewati berbeda dengan jalan menuju dua pos sebelumnya. Udara semakin tipis, belum lagi hawa dingin yang mulai terasa, padahal hari sudah agak siang. Semakin keatas tumbuhan yang kami temui semakin beragam, tidak hanya cemara atau pinus saja. Tumbuhan dan bunga-bungaan kecil berwarna-warni. Setelah melewati hutan pinus dan cemara, bisa dibilang kami hampir sampai karena puncak Welirang sudah kelihatan.

Rasa lelah dan penat seakan hilang, yang ada di pikiran kami hanyalah ingin cepat sampai puncak. Dalam perjalanan ke puncak itu, tiada hentinya aku mengucap syukur dan kagum akan lukisan alam dari sang Pencinpta.Bunga Edelweis muda yang segar dan tumbuhan dengan daun yang merah dikanan kiri kami, membuat mata dan hati terasa nyaman.Subhanallah...Terima kasih ya Alloh telah memberiku kesempatan melihat keindahan ini. Langkah semakin kami percepat karena tidak sabar ingin mencapai puncak. Tumbuhan hijau, asap yang mengepul dari kawah Welirang, langit yang biru, awan yang putih, dan batuan gunung, sungguh perpaduan warna yang balance. Tak lupa kami abadikan moment ini menggunakan kamera.

Berdebar-debar jantungku saat menuju kawah Welirang yang berasap, warna kuning dan bau belerang yang khas. Aku kira kawah Welirang adalah puncaknya, ternyata masih ada tempat yang lebih tinggi lagi tapi aku tidak berani naik karena terlalu curam. Aku sudah puas walau hanya sampai kawahnya saja. Akhirnya aku menunggu teman-temanku yang naik ke puncak. Cuaca di gunung cepat sekali berubah, dalam kesendirianku menunggu teman-teman turun dari puncak, tiba-tiba mendung datang dengan cepat, arah angin berubah menuju tempatku menunggu sambil membawa kabut dari bawah. Jarak pandang sangat terbatas, dadaku sesak karena udara semakin tipis dan dingin. Rasa takut mulai memasuki pikiranku. Aku hanya bisa berdoa. Akhirnya cuaca kembali normal hingga kami semua berkumpul dan bertemu teman-teman dari Unbraw. Karena mulai gerimis, kami memutuskan mencari tempat berteduh, tapi kami kalah cepat dengan hujan. Kami menemukan celah di dinding batu yang paling tidak bisa kami gunakan untuk berteduh sementara sampai hujan reda. Setelah hujan reda kami lanjutkan perjalanan menuju pondokan, karena menurut kami nanggung kalau bermalam di pondokan, jadi kami memutuskan bermalam di kop-kopan saja. Karena kami ingin sampai sana sebelum malam maka kami tancap gas menuruni lereng gunung. Ah sampai juga di kop-kopan meskipun sudah hampir malam. Kami mendirikan tenda, masak, bikin kopi lalu makan dan....tidur. Badan kami pegal semua setelah berjalan menuruni gunung tadi.

Paginya kami langsung menuju pos ijin pendakian, perjalanan tinggal separuh, fiuh. Kakiku ngilu semua tapi karena tidak sabar ingin cepat sampai kos-kosan dan bertemu teman-teman, ngilu tadi aku tahan sebisa mungkin dan akhirnya sampailah juga di pos ijin pendakian. Kami istirahat sebentar lalu langsung pulang. Ditengah perjalanan kami mampir sebentar di candi Jawi untuk foto-foto. Ingin segera aku ceritakan pengalamanku selama 4 hari ini. Pengalaman pertama yang sangat mengesankan.


Oiya, sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada temanku Aji yang sudah memberi semangat supaya aku mau naik gunung. Karena dia yang memberi doktrin dengan menceritakan pengalamannya naik gunung ditambah foto-foto yang ciamik, yang membangkitkan keberanianku naik gunung. Isol sang koki gunung, hehehe thanks ya sol sudah memasak untuk kita. Daru yang jadi frontman kita, hehehe thanks juga ya daru. That's all my story journey to Welirang mountain.

Salam hijau.

Ads Inside Post