Tampilkan postingan dengan label foto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label foto. Tampilkan semua postingan
Jumat, 20 Januari 2012
Menikmati Pagi Di Pantai Klayar
Pacitan memang terkenal dengan sebutan Kota 1001 Gua, namun keindahan pantainya juga tidak kalah mempesona. Salah satu pantai yang paling sering menjadi tujuan wisata di Pacitan adalah Pantai Klayar. Meskipun belum sepopuler pantai-pantai di selatan Pulau Jawa seperti Parangtritis dan Plengkung, tapi Pantai Klayar akan memberikan kesan tersendiri bagi pengunjungnya. Pantai Klayar terletak sekitar 45 km sebelah barat Pacitan. Pantai ini dapat dicapai dengan sepeda motor ataupun mobil.
Akses jalan yang sempit, beberapa tanjakan dan turunan yang curam serta jaraknya yang jauh dari kota merupakan tantangan tersendiri bagi pengunjungnya, khususnya bagi para driver. Namun jangan kuatir, sepanjang perjalanan kita akan selalu dimanjakan dengan pemandangan bukit hijau yang menyejukkan mata. Udara perbukitan yang masih segar saat pagi hari semakin membuat saya menikmati perjalanan ini. Kadang kita juga akan menjumpai beberapa orang penduduk yang kebetulan berpapasan dengan kita. Dengan senyum yang ramah, mereka tanpa segan akan menyapa kita.
Jika datang kesini lebih pagi, kita akan bisa menikmati sunrise-nya yang muncul dari balik bukit. Sunrise di pantai ini terlihat cantik, ditambah lagi arak-arakan awan yang masih menutupi sebagian langit Pacitan, membuat pemandangan ini semakin menarik. Untuk melihat Pantai Klayar secara utuh, kita bisa naik ke bukit karang yang ada di sebelah kanan pantai ini. Pihak pengelola pantai sudah menyediakan jalan setapak untuk memudahkan pengunjung menuju bukit karang ini. Dari atas bukit ini, lagi-lagi saya dibuat takjub dengan hamparan Samudra Hindia yang terpampang di depan saya. Sungguh perpaduan yang apik antara kemegahan dan keindahan. Berjalan menyusuri pantai menuju ke timur, kita akan menjumpai muara sungai yang airnya jernih dan tenang. Dipinggirnya berjajar pohon-pohon kelapa yang merupakan vegetasi pantai yang menjadi kebanggaan warga Pacitan ini. Sungguh pemandangan pagi yang menyejukkan hati.
Sebenarnya ada satu lagi yang menjadi obyek andalan di Pantai Klayar yaitu seruling laut yang berasal dari sebuah celah di batu karang ini. Ketika ombak besar datang, sebagian airnya akan masuk melalui celah tersebut dan menyembur ke atas menciptakan sebuah air mancur raksasa yang luar biasa. Air mancur ini juga disertai dengan suara mirip siulan oleh karena itu air mancur ini disebut seruling laut. Untuk menikmati fenomena alam ini dari dekat tergantung keberuntungan, kalau ombak lagi tinggi, penjaga pantai tidak akan mengijinkan kita untuk mendekatinya, seperti saat saya kesana beberapa waktu lalu. Terlepas dari itu semua, Pantai Klayar memang patut menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Jawa Timur karena menyuguhkan pemandangan alam yang luar biasa.
Berjalan Menembus Kabut Lautan Pasir Gunung Bromo
Lautan Pasir Gunung Bromo yang dikelilingi bukit dan pegunungan ibarat sebuah cawan raksasa kosong tak berisi pada siang hari. Kondisi ini akan sangat berbeda jika sudah menjelang malam hingga pagi hari. Cawan raksasa yang tadinya kosong ini akan terisi penuh dengan kabut. Sudah bisa dibayangkan betapa dinginnya udara di dalam sana. Namun inilah tantangannya, saya dan empat orang saudara saya waktu itu sepakat untuk melintasi lautan pasir Bromo ini dengan berjalan kaki.
Pukul 03.30 kami berangkat dari homestay. Berbekal senter seadanya, kami berlima mulai menyusuri lautan pasir mengikuti pathok-pathok pembatas kawasan Gunung Bromo, karena itulah petunjuk kami supaya tidak kesasar.
Dan ternyata melintasi lautan pasir Bromo ini tidak semudah yang kami bayangkan. Kami harus berhadapan langsung dengan kabut tebal yang saat itu mulai turun memenuhi lautan pasir ini. Selain itu, debu dari lalu lalang hardtop yang seperti arak-arakan pejabat itu juga sangat mengganggu pernafasan. Jadi, bagi pejalan seperti kami, memakai masker hukumnya wajib saat melintasi kawasan ini. Tak hanya itu, kombinasi kabut dan debu tadi ternyata juga sukses membuat jarak pandang semakin terbatas. Dan sekali lagi, memang inilah tantangannya.
Setelah hampir 1,5 jam berjalan, akhirnya kami sampai juga di starting point pendakian ke kawah Gunung Bromo. Disitu sudah ramai orang yang sedang bersiap-siap. Banyak yang menawarkan ojek kuda, tapi kami tetap memegang teguh keinginan kami untuk berjalan kaki hingga bibir kawah Gunung Bromo. Ojek kuda disini rupanya telah terorganisir dengan baik. Jadi setiap pemilik diberi identitas berupa nomor urut, mereka tidak perlu berebut mencari pelanggan. Mereka tinggal menunggu giliran dipanggil sesuai nomor urutnya.
Sesampainya di bibir kawah, pemandangan yang luar biasa indah terhampar di hadapan kami. Sunrise yang menawan di atas kabut yang seperti gumpalan kapas raksasa itu sungguh pemandangan yang menakjubkan. Benar-benar pagi yang sempurna. Puas menikmati pemandangan dari bibir kawah, kamipun melewati lautan pasir lagi untuk kembali ke homestay. Saat perjalanan pulang ini, kabut berangsur-angsur mulai hilang. Dan akhirnya sekitar pukul 8 kabut sudah benar-benar hilang dari lautan pasir Bromo. Deretan bukit-bukit hijau disekitar Gunung Bromo sepenuhnya terlihat. Hardtop-hardtop yang membawa para pelancong juga tampak rapi berwarna-warni. Semoga sampai kapanpun Bromo akan tetap menawan seperti ini.
nb : Sebenarnya saya sudah pernah posting tulisan tentang perjalanan menembus kabut Bromo ini, tapi karena menurut salah seorang teman, postingan saya itu sedikit disgusting jadi saya edit lagi jadi seperti ini. Tapi kalau masih ingin baca yang disgusting tadi bisa dibaca di sini.
Senin, 08 Agustus 2011
Monumen Simpang Lima Gumul, Arc de Triomphe-nya Kediri
Kalau Paris punya Arch de Triomphe, maka warga Kediri bangga dengan Monumen Simpang Lima Gumul-nya. Jika dilihat sekilas, bentuk kedua bangunan ini memang tampak sama, hanya saja jika dilihat pahatan relief di dindingnya maka akan nampak perbedaannya. Relief di dinding Monumen Simpang Lima Gumul terlihat lebih bernuansa lokal dan sederhana. Monumen yang mulai dibangun pada tahun 2003 ini terletak di Desa Tugurejo, Kec. Gampengrejo, Kab. Kediri - Jawa Timur. Letaknya yang berada diantara lima persimpangan jalan, membuat monumen ini ibarat sebuah jantung pusat bertemunya arus lalu lintas dari arah sekitar Kediri yaitu Wates, Gurah, Pagu, Pare dan Kota Kediri.
Monumen Simpang Lima Gumul terlihat begitu megah hingga sempat membuat saya takjub saat pertama kali datang kesana. Barisan pohon sawit yang tertata apik dan rumput yang terpangkas rapi, nampaknya dapat memberikan sedikit kesan asri pada monumen ini. Area di sekitar monumen juga nampak bersih dan terawat. Waktu saya kesana tidak terlihat satupun pedagang kaki lima yang mangkal di sekitar area monumen. Entah karena memang bukanya agak malam atau memang tidak ada, yang jelas waktu itu saya hanya melihat sesama pengunjung saja. Yang unik dari monumen ini adalah dibangunannya terowongan bawah tanah yang menghubungkan area parkir dengan area monumen. Jangan dibayangkan terowongan ini sempit dan pengap seperti goa-goa jaman penjajahan jepang dulu, terowongan yang ada di monumen ini adalah terowongan modern yang dindingnya sudah di cor disertai penerangan yang memadai. Tidak ada tarif yang dikenakan untuk menikmati kemegahan bangunan ini dari dekat, kalaupun harus mengeluarkan uang mungkin hanya untuk biaya parkir dan toilet saja.
Saya merasa beruntung bisa tiba disana saat senja karena nampaknya menjadi momen yang pas untuk menikmati kemegahan bangunan kebanggaan warga Kediri ini. Langit yang masih biru dengan matahari sudah hampir tenggelam, ditambah temaramnya lampu yang senada dengan warna dindingnya, membuat Monumen Simpang Lima Gumul terlihat semakin cantik. Maka tak heran kalau monumen yang menjadi ikon Kabupaten Kediri ini selalu ramai pengunjungnya, apalagi saat malam hari. Kebanyakan dari mereka hanya sekedar duduk santai ataupun foto-foto menikmati waktu luangnya disini bersama kerabat ataupun teman.
Morning Grey
Selasa, 31 Mei 2011
Light From The East
Mau dimanapun menikmatinya, yang namanya sunrise selalu dapat memanjakan mata saya. Dinikmati dari puncak gunung, dari atas bukit, pesisir pantai ataupun hanya dari balkon kos-kosan, semuanya sama, selalu dapat membuat saya bersyukur bisa hidup di negeri ini. I love Indonesia!
******
Beberapa waktu yang lalu, akhirnya saya bisa menikmati sunrise di kawah Gunung Bromo. Waktu itu, sebelum mencapai kawah, saya bersama empat orang saudara saya masih harus berhadapan langsung dengan tebalnya kabut lautan pasir Bromo yang dingin. Belum lagi debu dari lalu lalang hardtop yang melintas lautan pasir ini, cukup mengganggu pernafasan bagi pejalan kaki seperti kami. Namun "perjuangan" itu tidak sia-sia, karena sesampainya di puncak, kami masih sempat melihat keindahan sunrise-nya.
******
Menikmati sunrise dari atas bukit pernah saya lakukan di Bukit Penanjakan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Bukit Sikunir di Dataran Tinggi Dieng. Keindahan sunrise di Bukit Penanjakan memang selalu menjadi daya tarik bagi pelancong domestik maupun mancanegara. Memang, saat Bromo meletus beberapa waktu lalu, kawasan ini sempat ditutup karena terkena hujan abu vulkanik. Namun hal itu tidak menyurutkan niat saya bersama beberapa teman untuk pergi kesana. Sayangnya saat itu cuaca sedikit mendung.
Untuk melihat sunrise di Bukit Sikunir nampaknya tidak semudah di Bukit Penanjakan. Kalau di Penanjakan kita bisa dengan mudah menyewa jasa hardtop untuk sampai lokasi, di Sikunir untuk dapat menikmati sunrise kita masih harus sedikit hiking untuk sampai ke view point. Namun tak apalah toh sampai di view point semua akan terbayar dengan keindahan sunrise-nya. Nampak di kejauhan dari Bukit Sikunir ini kita bisa melihat siluet gunung Sindoro - Sumbing, Merbabu dan Merapi.
photo by Dwi Putri
******
Dari dulu saya ingin sekali melihat sunrise di pantai. Namun baru kesampaian saat saya mengunjungi Pantai Bama yang berada di dalam komplek Taman Nasional Baluran - Situbondo. Lingkungan sekitar pantai yang sepi, segarnya udara pagi, ditemani suara ombak-ombak kecil, menjadikan pantai ini sebagai tempat ideal untuk menikmati sunrise.
Berbeda dengan sunrise di Pantai Bama, sunrise di Pantai Klayar - Pacitan "lebih lambat" datangnya. Topografi pantai selatan yang berupa pegunungan membuat sinar matahari jadi terhalang sehingga sunrise disini terkesan agak siang datangnya. Foto ini saya ambil sekitar pukul 6 pagi.
Untuk menikmati sunrise, yang wajib dilakukan memang harus bangun pagi, tapi ternyata bangun pagi saja belumlah cukup, cuaca juga sangat berpengaruh. Pernah saya 3 kali berburu sunrise di Pantai Ria Kenjeran tapi 3 kali itu pula cuaca mendung. Namun terkadang tanpa diburu pun, rol sunrise seperti ini malah tiba-tiba muncul. Lucky me:)
******
Sabtu, 19 Maret 2011
Trial. #1
Bisa dibilang ini adalah simply fun project saya. Kenapa saya bilang simply fun? Karena saya lakukan dengan peralatan seadanya, objek seadanya dan ya iseng saja, untuk mengisi waktu disela-sela saya mengerjakan tugas akhir.
Sabtu, 09 Oktober 2010
Lampion Garden BNS
BNS (Batu Night Spectacular) sebenarnya sudah lama dibuka tapi baru beberapa waktu lalu saya sempat kesana. Yang membuat saya tertarik dengan tempat wisata ini adalah wahana lampion garden-nya. Memang, dari cerita teman-teman yang sudah pernah kesana, wahana inilah yang katanya wajib dikunjungi selain bioskop 4D.
Di lampion garden ini, kita akan disuguhi sebuah taman yang cukup luas, berisi aneka macam bentuk lampion mulai dari tokoh-tokoh kartun Walt Disney hingga miniatur landmark beberapa kota di dunia seperti menara Eiffel dan menara Petronas. Tidak hanya itu saja, beberapa bentuk hewan juga ada lampionnya. Ada angsa, bebek, capung, flamingo dan masih banyak lagi.
Di taman ini juga ada beberapa bangku untuk bersantai dengan background lampion berbentuk hati. Hampir bisa dipastikan jika ada muda mudi yang datang kesini pasti spot ini tidak akan luput jadi background berfoto. Bagi mereka yang sedang kasmaran, bisa jadi spot ini dijadikan tempat untuk mengungkapkan isi hati pada gebetan, sesuai dengan tulisan di pintu masuk wahana ini, "Ungkapkan kasih sayang hanya di lampion garden", hehehe.
Untuk weekend dan hari libur, kita dikenakan tiket masuk seharga Rp. 10.000,- sedangkan hari biasa cukup Rp.7000,- saja. Jadi jika weekend tidak ada kegiatan dan bingung mau kemana, tidak ada salahnya mencoba tempat wisata yang terletak di daerah Batu, Malang ini.
Selasa, 21 September 2010
Berjalan Menembus Kabut Bromo
Nama Gunung Bromo memang sudah tersohor hingga mancanegara, tak heran jika banyak pelancong ingin mengunjunginya. Banyak alternatif akomodasi untuk menuju lokasi gunung nan eksotis ini, hardtop, ojek, ataupun kuda selalu siap sedia mengantarkan kita. Namun dengan dalih menghemat pengeluaran, saya, adik dan 3 orang sepupu saya kali ini memutuskan jalan kaki saja.
Pukul 03.30 kami berangkat dari homestay. Setelah kira-kira 20 menit berjalan, akhirnya kami sampai di lautan pasir. Berbekal senter seadanya, kami berlima mulai menyusuri lautan pasir mengikuti pathok-pathok pembatas kawasan Gunung Bromo, karena itulah acuan kami supaya tidak kesasar. Bagi pejalan seperti kami, memakai masker hukumnya wajib saat melintasi kawasan ini. Kabut yang begitu tebal ditambah debu dari lalu-lalang hardtop yang seperti arak-arakan pejabat itu, akan sangat mengganggu pernafasan. Selain itu, kombinasi kabut dan debu tadi akan secara otomatis membuat jarak pandang semakin terbatas.
Setelah hampir 1,5 jam berjalan, akhirnya sampai juga di starting point pendakian ke puncak Bromo. Disitu sudah ramai orang yang sedang bersiap-siap mau muncak. Banyak yang menawarkan ojek kuda, tapi kami tetap setia dengan prinsip 'jalan kaki' kami, hehe. Ojek kuda disini rupanya sudah diorganisir dengan baik. Jadi setiap pemilik diberi identitas berupa nomor urut, mereka tidak perlu berebut mencari pelanggan. Mereka tinggal menunggu giliran dipanggil sesuai nomor urutnya.
Dalam perjalanan menuju kawah Bromo, saya sempat melihat seorang ibu berjalan dengan membawa serta anaknya yang masih bayi. Tidak hanya itu, saya juga melihat seorang nenek yang mengenakan sewek (kain jarik) sedang dituntun oleh anaknya menapaki jalan pasir menuju kawah Bromo. Saat ditawari naik kuda, si nenek malah menolak dan dengan semangat menjawab, "Wong mbahe sik kuat kok, le". Wahuuu! Keep rock 'n roll, mbah!
Kabut saat itu masih tetap tebal. Masker sarung yang saya pakai sejak di lautan pasir ternyata sudah tidak mempan lagi. Alhasil, hidung saya mulai bereaksi, bersin-bersin dengan ekstrim. Sudah hampir 2 pack tissu ukuran sedang saya habiskan sepanjang perjalanan, tapi si ingus belum juga mampet. Bahkan saking jengkelnya, saya biarkan saja dia netes-netes di pasir. Untung saja keadaan sekitar masih berkabut jadi kelakuan tidak berperi kesopanan itu tidak sempat membuat heboh pengunjung lain.
Lain halnya dengan salah satu sepupu saya, sebut saja AK-nama disamarkan, memang benar hidungnya baik-baik saja tapi tidak dengan perutnya. Sejak di starting point sebenarnya dia sudah mengeluh sakit perut, ingin buang 'perbekalan' katanya. Namun, karena toilet masih tutup maka kami tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dalam perjalanan pulang menuju starting point, rupanya hasrat ingin buang 'perbekalan' itu sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dengan hanya berbekal tissu, tanpa basa-basi dia langsung cari semak-semak, memenuhi hasratnya itu. "Krrskkk..krrskkk..", sepuluh menit dia baru muncul lagi. Sebenarnya hasrat buang 'perbekalan' sepupu saya di Bromo tidak hanya kali itu saja, tapi tidak usahlah saya ceritakan semua, cukup satu itu saja, hehe.Inilah salah satu berkah jalan kaki, misalkan saja kita naik kuda lalu kebelet seperti itu, masak si bapak dan kudanya disuruh nunggu kita?
Ternyata dinginnya kabut Bromo juga dirasakan pengunjung lain. Buktinya, toilet sampai antri seperti antri minyak subsidi, terutama toilet cewek. Saya yang dari tadi juga kebelet buang air kecil sedikit lega karena dari kejauhan, area toilet cowok tampak lengang. Begitu saya mendekat, jeng!jeng! Ternyata disana sudah ada beberapa orang cewek yang didominasi kaum ibu sedang antri. “Nggak salah masuk toilet toh bu?”, tanya mas-mas di pinggir saya. “Toilet cewek antri panjaaang mas, sudah kebelet ini”, jawab mereka kompak. Jiaahhhh…!!! Pantas saja negara ini nggak maju-maju, lha sebagian warganya suka menyabotase teritori pribadi orang lain.
Dan akhirnya sekitar pukul 8 pagi, kabut sudah hilang. Pemandangan bukit-bukit yang indah disekitar Gunung Bromo sepenuhnya terlihat. Hardtop-hardtop yang membawa para pengunjung juga tampak rapi berwarna-warni. Sebelum kembali ke homestay, kami berlima sempat minum kopi di warung sekitaran toilet. Disela-sela kami minum kopi, si Yusi, sepupu saya, nyeletuk “Sakjane nang Bromo iku gak soro lho. Tekan homestay iso nyewa hardtop opo ojek, arep nang puncak yo iso numpak jaran, lek kademen yo ono warung kopi nang nduwur. Masalahe cuma siji, kudu nggowo duit akeh !”. Haha, bener yus!
Pukul 03.30 kami berangkat dari homestay. Setelah kira-kira 20 menit berjalan, akhirnya kami sampai di lautan pasir. Berbekal senter seadanya, kami berlima mulai menyusuri lautan pasir mengikuti pathok-pathok pembatas kawasan Gunung Bromo, karena itulah acuan kami supaya tidak kesasar. Bagi pejalan seperti kami, memakai masker hukumnya wajib saat melintasi kawasan ini. Kabut yang begitu tebal ditambah debu dari lalu-lalang hardtop yang seperti arak-arakan pejabat itu, akan sangat mengganggu pernafasan. Selain itu, kombinasi kabut dan debu tadi akan secara otomatis membuat jarak pandang semakin terbatas.
Setelah hampir 1,5 jam berjalan, akhirnya sampai juga di starting point pendakian ke puncak Bromo. Disitu sudah ramai orang yang sedang bersiap-siap mau muncak. Banyak yang menawarkan ojek kuda, tapi kami tetap setia dengan prinsip 'jalan kaki' kami, hehe. Ojek kuda disini rupanya sudah diorganisir dengan baik. Jadi setiap pemilik diberi identitas berupa nomor urut, mereka tidak perlu berebut mencari pelanggan. Mereka tinggal menunggu giliran dipanggil sesuai nomor urutnya.
Dalam perjalanan menuju kawah Bromo, saya sempat melihat seorang ibu berjalan dengan membawa serta anaknya yang masih bayi. Tidak hanya itu, saya juga melihat seorang nenek yang mengenakan sewek (kain jarik) sedang dituntun oleh anaknya menapaki jalan pasir menuju kawah Bromo. Saat ditawari naik kuda, si nenek malah menolak dan dengan semangat menjawab, "Wong mbahe sik kuat kok, le". Wahuuu! Keep rock 'n roll, mbah!
Kabut saat itu masih tetap tebal. Masker sarung yang saya pakai sejak di lautan pasir ternyata sudah tidak mempan lagi. Alhasil, hidung saya mulai bereaksi, bersin-bersin dengan ekstrim. Sudah hampir 2 pack tissu ukuran sedang saya habiskan sepanjang perjalanan, tapi si ingus belum juga mampet. Bahkan saking jengkelnya, saya biarkan saja dia netes-netes di pasir. Untung saja keadaan sekitar masih berkabut jadi kelakuan tidak berperi kesopanan itu tidak sempat membuat heboh pengunjung lain.
Lain halnya dengan salah satu sepupu saya, sebut saja AK-nama disamarkan, memang benar hidungnya baik-baik saja tapi tidak dengan perutnya. Sejak di starting point sebenarnya dia sudah mengeluh sakit perut, ingin buang 'perbekalan' katanya. Namun, karena toilet masih tutup maka kami tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dalam perjalanan pulang menuju starting point, rupanya hasrat ingin buang 'perbekalan' itu sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dengan hanya berbekal tissu, tanpa basa-basi dia langsung cari semak-semak, memenuhi hasratnya itu. "Krrskkk..krrskkk..", sepuluh menit dia baru muncul lagi. Sebenarnya hasrat buang 'perbekalan' sepupu saya di Bromo tidak hanya kali itu saja, tapi tidak usahlah saya ceritakan semua, cukup satu itu saja, hehe.Inilah salah satu berkah jalan kaki, misalkan saja kita naik kuda lalu kebelet seperti itu, masak si bapak dan kudanya disuruh nunggu kita?
Ternyata dinginnya kabut Bromo juga dirasakan pengunjung lain. Buktinya, toilet sampai antri seperti antri minyak subsidi, terutama toilet cewek. Saya yang dari tadi juga kebelet buang air kecil sedikit lega karena dari kejauhan, area toilet cowok tampak lengang. Begitu saya mendekat, jeng!jeng! Ternyata disana sudah ada beberapa orang cewek yang didominasi kaum ibu sedang antri. “Nggak salah masuk toilet toh bu?”, tanya mas-mas di pinggir saya. “Toilet cewek antri panjaaang mas, sudah kebelet ini”, jawab mereka kompak. Jiaahhhh…!!! Pantas saja negara ini nggak maju-maju, lha sebagian warganya suka menyabotase teritori pribadi orang lain.
Dan akhirnya sekitar pukul 8 pagi, kabut sudah hilang. Pemandangan bukit-bukit yang indah disekitar Gunung Bromo sepenuhnya terlihat. Hardtop-hardtop yang membawa para pengunjung juga tampak rapi berwarna-warni. Sebelum kembali ke homestay, kami berlima sempat minum kopi di warung sekitaran toilet. Disela-sela kami minum kopi, si Yusi, sepupu saya, nyeletuk “Sakjane nang Bromo iku gak soro lho. Tekan homestay iso nyewa hardtop opo ojek, arep nang puncak yo iso numpak jaran, lek kademen yo ono warung kopi nang nduwur. Masalahe cuma siji, kudu nggowo duit akeh !”. Haha, bener yus!
Selasa, 27 Juli 2010
Staring.
Saya suka sekali dengan anak-anak. Bukan, saya bukan mahasiswa pedofil, saya laki-laki normal kok. Hanya saja, entah itu karena tingkah polah mereka yang polos, wajah mereka yang innocent,atau senyum mereka yang muaniisss sekalipun hanya dengan dua gigi kelinci saja, yang jelas mereka selalu sukses membuat saya tersenyum,hehe. Tatapan mata mereka jujur. Mereka belum mahir berbohong seperti
Waktu main ke Balai Pemuda minggu pagi kemarin, saya sempat jeprat-jepret nggak jelas ngambil gambar anak-anak kecil, yah itung-itung ikut memperingati Hari Anak Nasional, huehehe. Ekpresinya macem-macem, ada yang malu-malu, ada yang cuek, yang tidurpun juga ada, okelah kalau begitu cekidot saja langsung:)
Ceritanya si cewek manis ini pengen cepet-cepet pulang, dia ngrengek ke ibunya minta pulang tapi si ibu sepertinya masih asyik nonton reog. Sadar kalau mau saya ambil gambar, dia buru-buru ngumpet di balik bahu ibunya sambil sesekali ngintip saya, hehe.
Senyum dong, jangan mencep begitu:)
Anak ini antusias sekali nonton reog sampai nggak sadar kalau saya ambil gambar:D
Anak ini nggak peduli, meskipun sekitarnya ramai penonton dan panas, kalau ngantuk ya tidur aja, hehe.
Ini keponakan saya, si Mayo, waktu buka file-file foto di laptop nemu foto ini:)
Kamis, 01 Juli 2010
Jalan-jalan meransel ke Pulau Sapudi
Liburan panjang datang lagi, saatnya jalan-jalan. Kali ini jalan-jalan saya agak berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Biasanya untuk menuju ke tempat tujuan saya menggunakan mobil, entah mobil rental atau punya teman, tapi kali ini saya dan teman-teman naik motor. Kalau biasanya nginep di penginapan, kali ini numpang rumah orang, yang seperti ini benar-benar pertama buat saya.
Yang terasa berbeda lagi adalah kali ini jalan-jalan saya bersama 3 orang yang sudah pernah mengunjungi beberapa tempat bagus di Indonesia, ada Ayos yang sudah pernah ke Belitung dan Pulau Komodo, Nuran yang sudah pernah ke Derawan dan juga ke Pulau Komodo bersama Ayos serta Putri yang sudah pernah menjejakkan kaki di Karimun Jawa.Ya saya merasa beruntung saja bisa jalan-jalan bareng mereka, hehe.
Tidak hanya itu, karena mereka semua suka menulis maka setelah jalan-jalan pasti akan mereka ceritakan dalam bentuk tulisan, tidak terkecuali traveling kali ini. Jadi sejak sebelum berangkat memang sudah ada rencana akan menuliskannya dalam bentuk e-book.
Destinasi kami adalah pulau-pulau kecil disebelah timur pulau Madura, tapi karena ombak yang tidak memungkinkan untuk kami menyeberang ke pulau-pulau kecil itu jadilah kami hanya meng-explore satu pulau saja yaitu pulau Sapudi. Semua cerita perjalanan ini kami rangkum dalam sebuah e-book sebanyak 30 halaman yang bisa dibaca secara online di scribd atau bisa di unduh secara gratis lewat ziddu.
Meskipun saya hanya nyumbang tulisan sedikit di e-book ini tapi ada kebanggaan tersendiri bagi saya bisa nulis bareng orang-orang hebat seperti mereka, hehehe. Selamat membaca, happy traveling!:)
Yang terasa berbeda lagi adalah kali ini jalan-jalan saya bersama 3 orang yang sudah pernah mengunjungi beberapa tempat bagus di Indonesia, ada Ayos yang sudah pernah ke Belitung dan Pulau Komodo, Nuran yang sudah pernah ke Derawan dan juga ke Pulau Komodo bersama Ayos serta Putri yang sudah pernah menjejakkan kaki di Karimun Jawa.Ya saya merasa beruntung saja bisa jalan-jalan bareng mereka, hehe.
Tidak hanya itu, karena mereka semua suka menulis maka setelah jalan-jalan pasti akan mereka ceritakan dalam bentuk tulisan, tidak terkecuali traveling kali ini. Jadi sejak sebelum berangkat memang sudah ada rencana akan menuliskannya dalam bentuk e-book.
Destinasi kami adalah pulau-pulau kecil disebelah timur pulau Madura, tapi karena ombak yang tidak memungkinkan untuk kami menyeberang ke pulau-pulau kecil itu jadilah kami hanya meng-explore satu pulau saja yaitu pulau Sapudi. Semua cerita perjalanan ini kami rangkum dalam sebuah e-book sebanyak 30 halaman yang bisa dibaca secara online di scribd atau bisa di unduh secara gratis lewat ziddu.
Meskipun saya hanya nyumbang tulisan sedikit di e-book ini tapi ada kebanggaan tersendiri bagi saya bisa nulis bareng orang-orang hebat seperti mereka, hehehe. Selamat membaca, happy traveling!:)
Senin, 22 Maret 2010
Small Thing From Dieng
Kontributor :
Dwi Putri Ratnasari
Riski Setiadi
----------------------------------------------------------------------------------
Riski Setiadi
----------------------------------------------------------------------------------
Semua orang pasti pernah tahu kepik, lalat, laba-laba dan binatang kecil lain di sekitarnya tapi jarang sekali yang memperhatikan, ya termasuk juga saya, hehe. Ternyata objek-objek kecil seperti ini kalau diperhatikan lebih dekat jadi terlihat menarik.
Awalnya saat jalan-jalan ke dataran tinggi Dieng beberapa waktu lalu, saya melihat teman saya si Putri sedang asyik motret sesuatu di atas ilalang di pinggiran Telaga Warna. Putri adalah salah satu dari delapan travelfreak yang ikut dalam jalan-jalan mbambung kali ini (maaf yo put kalau kurang nyaman dengan kata 'freak'nya,hahaha). Waktu itu saya kira dia ngambil gambar landscape telaganya, eh ternyata bukan, lalat yang nangkring di atas ilalang ternyata yang jadi objek sasarannya. Hasilnya bagus Put lak jareku,hehehe.
Ini beberapa foto juga hasil jepretan Putri
Langganan:
Postingan (Atom)


















































